Feeds:
Posts
Comments

Khanduri Laot

Khanduri Laot
Oleh Novia Liza

SENIN, 3 Maret 2008. Sepeda motor yang saya tumpangi melaju pelan melewati acara khanduri laot di desa Lampageu, kecamatan Peukan Bada. Genangan air masih terlihat di aspal, membuat jalan licin.

“Singgah,” ujar beberapa warga yang berlindung di bawah tenda, sambil melambaikan tangan mereka.

Seorang lelaki mendatangi kami yang berhenti tiga meter dari tempat tersebut. Dia menyapa saya dan Maina, teman seperjalananan saya, sembari memberi dua bungkusan yang masing-masingnya berisi nasi, kari daging kerbau, dan segelas air mineral.

Jak keundurie sama-sama (Ayo kenduri sama-sama dengan kami),” ajaknya, ramah.

Lokasi khanduri laot (kenduri laut) tersebut terpisah dari permukiman warga. Ada dua tenda besar dan satu tenda berukuran sedang yang didirikan khusus untuk tamu penting.

Beberapa lelaki setengah baya, umumnya berkulit hitam terbakar matahari, tampak duduk bercengkrama sambil melepaskan lelah. Ada delapan kuali besar berdiameter kurang lebih 90 sentimeter bertebaran di tanah. Sebagian masih menyimpan hangat tungku. Kuali-kuali ini lazim dipakai untuk memasak daging di pesta orang Aceh.

“Hari ini kami syukuran,” ujar Zaini, terseyum. Bahasa Indonesianya kaku.

Tanyoe na rezeuki, ya ta bagie,” ujarnya. Dia tersenyum-seyum lagi. Namun, perkataannya kali ini lebih terdengar mantap.

“Apa kendurinya buang sesajen ke laut?” tanya saya.

“Oh, tidak,” tukas Zaini. “Kita buang kepala saja dan yang tidak terpakai, tidak buang daging.”

Zaini meyakini bahwa membuang daging adalah tindakan mubazir. Dan memberi persembahan adalah syirik atau menyekutukan Allah. Syirik dipercayai sebagai dosa besar dalam agam Islam. Segala tindakan yang mengarah kepada menyekutukan Allah dengan mempercayai dan tunduk pada kekuatan lain selain Allah digolongkan sebagai syirik.

Pernyataan Zaini didukung teman-teman , sesama nelayan.

”Tidak ada kepercayaan (kepada kekuatan lain), itu kan syirik. Tanyoe (kita) kan cuma syukur,” sahut Abdul Andib.

“Tadi kita masak daging ini rame-rame,” ujarnya menjawab pertanyaan saya soal siapa koki kari kerbau itu. “Enak, kan?” Dia balas bertanya.

“Dia yang mimpin masaknya,” kata Andib sambil menunjuk ke arah Zaini. yang terseyum malu.

Zamzami, sekretaris desa Lampageu, mengatakan bahwa khanduri laot ini adalah kehendak untuk membina kesatuan dengan mugee (penampung dan penjual ikan) dengan nelayan.

Mereka baru setahun lalu kembali ke kampung setelah tsunami melanda Aceh pada Desember 2004. Sebelumnya mereka mendiami barak penampungan pengungsi tsunami.

“Ini inisiatif dari nelayan untuk mempererat hubungan mereka dengan mugee. Inilah cara yang paling bagus,” katanya, seraya tersenyum.

Hari itu Zamzami mengenakan setelan jaket biru dan celana jins biru. Rambutnya hitam legam, begitu juga kulitnya. Bicaranya lembut dan pelan, jauh dari kesan orang pesisir yang bersuara besar dan kasar.

Zamzami mengatakan bahwa lebih kurang Rp 10 juta dihabiskan untuk khanduri laot ini. Dana dikumpulkan dari nelayan dan mugee di mukim tersebut.

“Untuk mugee, sumbangannya Rp 90 ribu dan nelayan, Rp 100 ribu.” Dia tertawa.

Ada juga bantuan dana dari Yayasan Lamjabat dan peternak unggas yang kantor dan tempat kerjanya berada dekat pusat acara ini. Salah seorang penjabat Aceh Besar yang berkampung halaman di desa tersebut ikut pula menyumbang.

“Warga biasa tidak dikenakan pungutan sumbangan,” kata Zamzami, tegas.

Mukim Lampague ini membawahi empat desa, yakni desa Lamgureun, Lam Badeuk, Lambaro Neujit, dan Lampageu.

“Acara ini sebenarnya untuk satu mukim, tapi kita buat (pusatkan) di desa Lampageu,” ujar Zamzami, sambil membakar rokok dengan pemantik berwarna hijau.

Dari dana yang terkumpul, mereka membeli seekor kerbau jantan besar. Kerbau itu disembelih secara dan dimasak menggunakan bumbu kari khas Aceh dalam beberapa kuali hitam besar, menggunakan kayu bakar. Inti batang pisang yag lembut dijadikan sayuran untuk kari tersebut dan bahan ini lazim dipakai untuk kari Aceh dalam upacara besar.

Zamzami menyatakan bahwa lebih kurang 1000 bungkus paket makanan disiapkan untuk mereka yang hadir dan 200 paket tambahan disiapkan khusus untuk tamu tak terduga.

“Siapa saja yang lewat sini kita panggil semua,” kata Zamzami.

Persiapan acara telah dimulai sejak kemarin pagi, antara lain dengan membersihkan lahan dan mendirikan tenda.

Lokasi yang dipilih tak jauh dari Ujung Pancu, wilayah pemancingan yang terletak di ujung desa. Tenda-tenda didirikan dekat jalan aspal desa dengan pemandangan langsung ke laut lepas. Tak hanya panorama indah laut saja yang dapat disaksikan dari lokasi itu, juga pegunungan. Mukim ini terletak di wilayah pegunungan yang “bersentuhan” dengan pantai.

“Keesokan hari (hari acara) kita sembelih kerbau, masak kemudian berdoa, buang kepala kerbau ke laut lalu makan bersama-sama,” tambahnya.

Untuk hewan yang dipotong, menurut Zamzami, memang tidak ada syarat tertentu. Tapi kerbau yang disembelih biasanya kerbau jantan.

Khanduri laot ini tidak mempunyai waktu khusus. Ia lazim dilaksanakan setahun sekali atau maksimal, tiga tahun sekali. Pelaksanaannya tergantung pada kemampuan ekonomi warga setempat. Ketika dalam satu musim hasil tangkapan dinilai banyak, maka dilaksanakanlah khanduri tersebut.

Thip thon lageenyan, leh peu nyan hom lah (tiap tahun begitu tapi apa itu entahlah),” kata Nursalamah, salah seorang warga yang datang. “Tapi enak juga karena makan-makan gratis.” Tawanya meledak.

Galak lon jak cara lagenyan, ayeuu that (suka saya pergi acara seperti itu, enak sekali). Apalagi saat lihat kepala keube ( kerbau) nya dibawa ke laut. Tapi tadi saya tidak lihat kepala keube karena hujan,” kata Nursalamah, lagi.

“Mirip dengan praktek hajat laut di Pulau Jawa ya?” tanya saya kepada Zamzami.

“Kami tidak percaya ke situ. Kami cuma buang kepala, tulang dan kulit saja, sedangkan dagingnya bisa dimakan untuk anak yatim dan tamu, jadi ndak ada yang mubazir. Kalau kita buang daging itu kan istilahnya sudah mubazir,” sahut Zamzami.

Prosesi pembuangan kepala kerbau tersebut dengan cara mengumpulkan tulang, isi perut yang tidak digunakan (dimakan) dan kepala, dibungkus dengan kulit kerbau. Bungkusan tersebut dibawa ke lokasi yang sering dilalui nelayan setempat saat melaut dan dibuang di situ.

Han teungoh that, han bineh that (Tidak terlalu ke tengah, tidak terlalu ke pinggir). Ada doa bersama juga sesudah boh ulee nyan (buang kepala itu). Ya… doa sekedarnya,” jelas Zamzami. Sesekali dia menghisap rokoknya dalam-dalam.

Dalam rombongan pembuang kepala bungkusan tersebut ikut seorang tengku (ulama) atau orang yang dituakan di kampung.

“Tadi yang mengantar ada lima orang. Lon hana ikut meuno (saya tidak ikut tadi), terlambat. Hehehehe…. Ujeun (hujan),” jelasnya.

Di Pulau Jawa, tepatnya di Laut Selatan, terdapat prosesi adat laut yang dinamakan hajat laut. Pada acara itu seekor kerbau atau kepalanya beserta sesajian lainnya dihantarkan ke laut.

Hakikat hajat laut di jawa adalah ungkapan rasa syukur dan pengharapan kepada Tuhan atas tersedianya sumber kehidupan di laut dan keselamatan bagi para nelayan. Sebagai masyarakat yang hidup di tengah mitos Laut Selatan, ada pula yang menyatakan rasa syukur kepada ‘penguasa’ Laut Selatan, yakni Nyai Roro Kidul.

Upacara itu selalu dilaksanakan pada hari Senin atau Kamis menjelang Selasa atau Jumat Kliwon pada bulan Muharam (Suro). Selasa dan Jumat Kliwon dianggap sebagai hari naas sehingga nelayan tidak boleh melaut.

Ketika sesaji menyentuh permukaan laut, belasan orang melompat dari perahunya dan menyerbu sesaji. Mereka berebut menciduk air laut di bawah dan di sekitar sesaji untuk disiramkan ke perahu masing-masing. Mereka percaya bahwa dengan menyiram perahu dengan air itu akan mendatangkan berkah berupa hasil tangkapan ikan yang berlimpah dan dijauhkan dari malapetaka saat melaut. Uba rampe (materi isi) sesaji ternyata juga dicari orang. Konon, itu juga menjadi perlambang murahnya rezeki bagi yang mendapatkannya.

Itulah pemuncak acara hajat laut yang ditunggu-tunggu para nelayan di kawasan itu.

Lain di Jawa, lain di Aceh.

Zamzami menyatakan bahwa khanduri laot juga berlangsung untuk membentuk panglima laot tingkat teupien.

“Jadi ketua teupin itu semacam cabang. Paska (pasca) tsunami ini baru terbentuk. Kampong lain sudah terbentuk bahkan sebelum tsunami. Mungkin desa kita yang terlambat,” katanya.

Menurutnya, jika ada panglima teupin maka pengaturan dan pengorganisasian nelayan di mukim tersebut terarah dan lebih efektif khususnya dalam mengurus bantuan nelayan di tempatnya.

“Alhamdullilah saya sekarang selain sekdes (sekretaris desa) juga menjabat ketua teupien di sini. Tadi baru dicetuskan,” ujarnya, malu-malu.

Teupin adalah tempat nelayan mendaratkan boat-nya.

Sebagai salah satu pusat kegiatan nelayan di saat pulang melaut, penggunaan teupien diatur dan dilindungi adat.

SANUSI M. Syarif dalam buku Luen Pukat dan Panglima La’ot menulis bahwa khanduri laot sebenarnya mempunyai demensi yang lebih luas dari sekedar makan dan berdoa. Dalam praktiknya, terutama di Aceh Rayeuk, khanduri juga menjadi media bagi panglima laot se-Aceh untuk melakukan kunjungan dan bersilahturrahmi. Ini membuat mereka lebih mengenal sesamanya dan mengetahui seluk-beluk adat laut di wilayah panglima laot lain. Momen ini nantinya akan sangat membantu panglima laot saat menyelesaikan sengketa antar nelayan dari wilayah adat laut yang berbeda.

Selain itu, khanduri laot juga menjadi fungsi sosial, seperti bagaimana nelayan mampu menyantuni anak yatim, sebagai wujud rasa syukur atas rezeki yang diperoleh melalui laut.

Iskandar Ahmad, mantan kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Aceh periode 2005 – 2006 mengatakan bahwa khanduri laut merupakan ajang menyelesaikan bermacam masalahan menyangkut kerja mereka.

“Saya lihat khanduri itu juga sebagai rapat evaluasi mereka. Di hari itu mereka berkumpul bersama-sama. Selain euforianya, tapi mereka sebenarnya duduk rapat,” kata Iskandar kepada saya.

Kesempatan itu bisa terlaksana dengan banyaknya tokoh masyarakat yang hadir bersama nelayan yang setiap hari menghabiskan sebagian besar waktu di laut. Dengan pola tersebut, mereka memiliki satu hari khusus untuk duduk berkumpul dan membicarakan nasib mereka.

Menurut Iskandar, selain hari pantang melaut pada acara khanduri laut dan hari besar agama lainnya, pada hari Jumat juga tidak ada nelayan yang melaut di Aceh.

“Kami memanfaatkan hari Jumat itu sebagai hari ramah lingkungan. Kalau dihitung-hitung, di Aceh dalam sebulan itu (ada) empat hari tidak melaut. Kalau satu hari itu ada sejuta ekor yang tidak tertangkap dan dia bertelur itu berapa (jumlahnya)? Maka secara tidak langsung, di Aceh isu ramah lingkungan itu sudah jalan dari dulu,” katanya, bangga.

Di tempat terpisah, Zamzami berkata kepada saya, “Saat kenduri laot nelayan dilarang melaut, sampai tiga hari.”

“Kita umumkan kepada nelayan untuk dapat mengindahkan peraturan larangan melaut,” tambahnya, seraya mengambil kertas pengumuman dan membacakan isinya dengan keras. ”Tidak boleh melaut selama tiga hari tiga malam terhitung hari ini. Tidak boleh melaut pada hari jumat…”

“Kalau tidak ada kenduri ya tidak ada larangan tiga hari itu. Cuma setiap hari Jumat saja kita pantang melaut karena itu hari besar Islam,” lanjut Zamzami, tersenyum.

Wakil sekretaris panglima laot Aceh, Miftachuddin Cut Adek, juga melihat pantangan tersebut punya makna kurang lebih sama dengan yang diungkapkan Iskandar Ahmad. Saya menemuinya di kantor panglima laot se-Aceh di daerah Darussalam, Banda Aceh, pada suatu siang.

“Kita eksploitasi setiap hari ikan, sehingga perlu di istirahatkan,” katanya.

Dia mengatakan bahwa batasan lautnya sekitar lima mil dari darat. Selama acara kenduri ada pengangkatan bendera putih menandakan di laut sudah terjadi prosesi doa dan melempar kepala kerbau. Selama bendera putih itu dikibarkan nelayan tidak boleh masuk ke area tersebut.

“Orang di laut itu angkat bendera bahwa di laut telah dilempar kepala kerbau, itu berarti orang darat sudah boleh menyantap makanan yang disediakan. Kalau belum diangkat belum, boleh makan orang darat.” Dia menjelaskan sambil tertawa.

Kalau ada yang melanggar hari pantangan melaut tersebut maka sanksinya hasil tangkapan disita dan boat-nya ditahan panglima laot setempat selama tujuh hari.

Panglima laot adalah adalah pemimpin nelayan di suatu wilayah lhok atau wilayah penangkapan ikan dan berdomisili. Panglima laot berfungsi dan bertugas melestarikan hukum adat, adat-istiadat dan kebiasaan dalam masyarakat nelayan Aceh serta bermitra dengan pemerintah dalam pembangunan perikanan bila diminta.

Menurut Miftachuddin, pemilihan hewan seperti kerbau untuk disembelih di khanduri laot itu punya nilai spiritual. Selain kerbau, hewan lain tidak diperkenankan.

“Mengandung hikmah kerbau itu darahnya dingin dan darah nelayan itu panas makanya dalam kenduri perlu dinetralisasi dengan menggunakan kerbau,” jelasnya.

Di masa lampau, ketika nilai spiritual tadi masih kental dalam upacara pelemparan kepala kerbau, ternyata ada aturan khusus dalam memilih hewan kurban tersebut. Ia harus kerbau jagad (kerbau berbulu pirang), juga harus berkelamin jantan.

“Jantan itu kan lambang kekuasaan, keperkasaan biasanya itu kan identik dengan keberanian. Dan kerbau jantan itu banyak yang suka dagingnya, daripada kerbau betina. Dagingnya agak gimana gitu… coba potong aja lembu perempuan,” tuturnya, tanpa memerincikan kekurangan kerbau betina lebih rinci.

Ia kemudian mencontohkan reaksi orang dengan mimiknya, seandainya itu kerbau betina. “Nyoe keubeu inong (ini kerbau perempuan)? Ya, Allah….” Raut wajahnya terlihat tidak senang. “Memang dagingnya kurang lezat dibandingkan daging kerbau jantan,” lanjutnya, mengomentari daging kari yang disuguhkan.

Awalnya praktek khanduri laot di Aceh mirip dengan praktek hajat laut di pulau Jawa. Tujuannya menghormati penjaga laut.

“Itu saat Aceh Islamnya belum kental ya, sekitar ribuan tahun lalu, saat nilai magic-nya masih kuat,” jelasnya.

Miftachuddin mengatakan bahwa saat itu ketika kerbau hendak disembelih, hewan tersebut dilepas dan dikejar sambil disayat-sayat.

“Supaya darahnya menetes di pinggiran pantai. Itu menurut kepercayaannya untuk penjaga laut,” ujarnya.

Kini ritual tadi diganti dengan membuang kepala dan isi perut kerbau yang dibungkus kulit ke tengah laut, sekitar dua mil dari pantai.

“Di saat pelemparan kepala kerbau, diiringi dengan doa,” tuturnya.

Sejak itu ucapan terima kasih kepada penjaga laut dan hantu laut berubah jadi rasa terima kasih kepada Allah.

“Ini diisyaratkan sebagai adat laut dari nenek moyang yang dilestarikan,” tambahnya.

“Terakhir berubah lagi, nah….” Ia nyengir.

Sampai sekitar 90 tahun ini ritual itu terpelihara. Namun, baru-baru saja, berdasarkan keputusan panglima laot se-Aceh yang mengadakan pertemuan di Sabang, Pulau Weh, upacara membuang kepala kerbau itu tidak dibolehkan lagi. Alasan mereka, hal itu merujuk pada penerapan syariat Islam di Aceh. Kenduri cukup dengan doa bersama. Keputusan rapat tersebut tidak tertulis. Andai kerbau kepala masih dibuang ke laut, maka itu bukan lagi sebuah persembahan.

“Hanya sekedar nilai budaya yang dilestarikan dan sebagai sisi pariwisata,” tutur Miftachuddin.

“Ini kan pesta masyarakat nelayan, tapi penuh nilai budaya,” lanjutnya, lagi.

KEPALA Majelis Adat Aceh (MAA) Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Badruzzaman Ismail, mengatakan bahwa sejarah perkembangan khanduri laot pada awalnya untuk membangun satu potensi masyarakat supaya mereka bekerja dan berekonomi.

Seremoni tersebut dianggap sebagai sarana untuk memanggil orang agar berkumpul. Lewat makan bersama, akan lebih mudah menyampaikan sesuatu dan melakukan pendekatan sosial.

“Seperti publikasi dan lobi-lobi yang saat ini sering dilakukan lewat makan di restoran. Jadi dengan dibuat begitu, dengan terbuka seperti di sawah ada kenduri blang, begitu juga di laut ada kenduri laot. Jadi begitu ada upacara diberitahu supaya mereka masuk ke alam ini, tidak hanya di darat tapi juga di laut. Itu intinya,” tutur Badruzzaman.

Bagaimana dengan pelemparan kepala kerbau ke laut?

“Soalnya pada awal lahirnya belum ada alat yang bisa memberitahukan di mana sumber ikan yang banyak. Orang coba analisis salah satu cara yang sensitif (bagi) ikan itu adalah darah. Oleh karena itu kepala kerbau dibawa ke laut, dilepas. Darahnya dibawa air, kemudian ikan menciumnya. Itu kan awal lahirnya kebudayaan tersebut. Sebenarnya tidak ada hubungan dengan kepercayaan lain, kecuali itu semata-mata,” jelasnya.

Ketika khanduri laot tidak diadakan dan ikan sedikit, maka orang pun langsung menyalahkan absennya acara tersebut sebagai penyebab.

“Sebab kenduri juga tergantung pada kemampuan masyarakat. Sama juga ada Maulid (Nabi) di kampung-kampung. Terkadang tidak ada kenduri, karena masyarakatnya tidak mampu, begitu juga di laut,” katanya.

Dia menjelaskan bahwa inti dari kegiatan tersebut bukan untuk memuja sesuatu. Meskipun ada yang mengaitkannya dengan ajaran Hindu yang erat dengan sesajian atau persembahan.

“Ada kemungkinan, kita tidak tahu persis apakah awalnya ada pengaruh Hindu. Karena saya melihat, kalau saya analisis ya… hampir semua kegiatan di dunia beracara dan terjadwal dan ramai disaksikan orang. Kepala dibawa ke laut dan satu keasyikan juga memandang laut sembari melaksanakan prosesi buang kepala kerbau tersebut. Timbullah semangat. Kalau tidak, kan cuma lempar gitu aja. Tapi ada nilai khidmatnya,” jelasnya, panjang lebar.

Bagaimana dengan konteks syariat Islam yang sekarang tengah dihubung-hubungkan dengan berbagai aspek kehidupan orang Aceh?

Ulhee keubu ta meutagun (kepala kerbau mau dimasak) silahkan, mau dibuang silahkan, selama niat kita untuk umpan. Jadi itu cuma simbolis. Soalnya kita butuh suasana yang meriah,” kata Badruzzaman.

Dia menganggap khanduri laot tak bertentangan dengan Islam. Semua itu tergantung niat.

“Tidak keliru, asal jangan salah niatnya, (seperti) untuk minta rezeki lebih banyak dari kekuatan lain. Itu salah, syirik (menyekutukan Allah),” katanya, lagi.

“ Kalau itu salah tentu dia (ulama) tidak mau memimpin doa di situ kan.” Ia mempertegas penjelasannya.

Menurut Badruzzaman, kalau khanduri laot ini bertentangan dengan Islam pasti sudah sejak dulu dilarang. Hukum Islam sudah berabad-abad diterapkan di Aceh, sejak masa Kesultanan dulu, meski tidak dijadikan hukum negara dan tak tertuang dalam qanun macam sekarang ini.

Muslim Ibrahim, pemimpin Majelis Permusyawaratan Ulama atau MPU, menyebutkan bahwa khanduri laot dianjurkan dalam agama karena pada praktiknya ada perteguhan silahturrahmi dan nilai berbagi.

Selain itu, menurut Muslim, kepala kerbau yang dibuang itu berguna untuk memberi makan ikan-ikan.

“Selama hikmahnya besar, tidak ada unsur pemujaan, itu hukumnya boleh atau jais (tidak dilarang) dalam Islam,” jelasnya.

Dia menyatakan bahwa maksud khanduri laot tersebut bisa dijelaskan saat acara berlangsung.

“Pada momen pidato dari pemuka desa, agama dan nelayan bisa disisipkan penjelasan kedudukan kenduri tersebut sambil menyisipkan nilai ketauhidan (ketuhanan). Agar pada prakteknya dikemudian hari tidak melenceng,” katanya kepada saya.

*) Novia Liza adalah kontributor Pantau Aceh Feature Service di Banda Aceh. Ia mahasiswa Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry.

 

Alam Peudeung

Alam Peudeung
Oleh Novia Liza

“INI dia Alam Peudeung kita,” kata Direktur Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA), Rusdi Sufi. Ia menunjukkan sebuah ilustrasi bendera berwarna merah dengan lambang bulan bintang dan pedang on jok, pedang khas Aceh yang berbentuk daun aren yang terletak melintang di bawah lambang bulan bintang itu.

Dalam bahasa Aceh, “alam” yang berasal dari bahasa Arab berarti bendera dan “peudeung” adalah pedang. Alam Peudeung merupakan bendera Kerajaan Aceh Darussalam berdasarkan catatan sejarah yang ditulis pihak Belanda. Namun belum ada catatan sejarah yang cukup jelas menggambarkan wujudnya.

“Sedangkan ini bendera juga, tapi untuk membangkitkan semangat perang,” katanya, sambil menunjukkan foto bendera yang lain.

“Memang banyak versi, tapi saya cenderung dengan ini,” katanya, seraya menunjukkan ilustrasi Alam Peudeung yang tampil dalam buku Tarikh Aceh dan Nusantara karya Zainuddin yang ditunjukkannya pertama kali tadi.

Pada halaman pembukaan buku tersebut terdapat ilustrasi bendera Aceh di masa Kerajaan Aceh Darussalam. “Alam Atjeh”, begitu judul yang tertera di halaman itu. Kemudian terdapat syair berbahasa Aceh yang mengatakan, di Aceh ada Alam Peudeung, Cap Sikureung di tangan raja dan menceritakan kegemilangan sejarah Aceh.

“Kalau dulu orang aceh cenderung menerima Alam Peudeung yang ini (menunjuk versi Zainuddin). Ada pedangnya kan!, dengan bulan bintang, warnanya merah bukan kuning,” kata Rusdi dengan penuh keyakinan.

“Kalau yang ini (menunjukkan foto bendera merah yang satunya) banyak sekali ditemukan waktu perang dan modelnya juga banyak betul. Ada juga yang kuning dengan pedang ganda,” katanya.

Dalam pertempuran antara pasukan Belanda dan Kerajaan Aceh di Barus tahun 1840, Belanda berhasil merebut bendera perang pasukan Aceh. Warna dasar bendera itu merah, ada gambar pedang melintang dan di sudut atas bagian gagangnya ada bulatan seperti bulan purnama berwarna putih. Bulatan dan pedang tersebut bertuliskan tulisan Arab dengan kandungan doa-doa mohon perlindungan kepada Allah. Itulah gambar bendera yang dimaksud Rusdi sebagai bendera “waktu perang”.

“Sejak dulu ini bendera kita (menunjuk versi Zainuddin), tapi bagaimana ditemukan kurang jelas,” tuturnya.

“Kalau ini untuk kepentingan perang,” Ia kembali menunjuk bendera yang direbut Belanda dari tentara kerajaan Aceh di Barus tadi.

“Sejak Aceh Darussalam terbentuk ini sudah ada. Bagaimana ditemukan, saya tidak jelas. Tapi ada sumber yang bilang inilah Alam Peudeung,” ujarnya, lagi-lagi menunjuk gambar bendera dengan lambang bulan bintang di buku Zainuddin.

“Ya… seperti merah putih kan ada yang bilang yang menemukannya Mpu Tantular. Tapi itu kan dongeng. Yang jelas kemudian itu jadi bendera negara kita kan.” Ia tertawa.

Selain menjabat direktur PDIA, Rusdi juga berprofesi sebagai dosen Sejarah Aceh di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Syiah Kuala.

“Lantas bagaimana dengan bendera hijau yang dikatakan dikibarkan saat damai?” tanya saya.

“Itu cerita kemudian, tapi yang jelas bendera Aceh itu merah ya, bisa kita lihat dalam naskah-naskah. Kemudian ada orang yang membuat warna hijau disimbolkan sebagai sejuk damai. Itu macam-macam kejadiannya. Bisa karena karya pujangga lukisan,” jawabnya.

“Tapi tidak mungkin saboh nanggroe (satu negeri) dua bendera kan, hahahaha… Bendera itu kan, lambang, simbol kerajaan artinya identitas. Itu saya kira,” lanjutnya.

“Bendera kita (Alam Peudeung) mirip dengan bendera bulan bintang Turki ya?” tanya saya.

“Iya, kalau ini tidak ada.” Rusdi menutup gambar pedang on jok pada gambar bendera tersebut dengan tangannya. “Bendera Turki kan.” Senyumnya mengembang, setelah mengucapkannya.

Ia mengatakan bahwa hubungan Aceh dan Turki sudah terbina sejak masa Sultan Ala’ad-din Riayat Syah al-Kahar. Ketika itu armada Turki dan tenaga ahli mereka dikirim ke Aceh sebagai wujud persahabatan.

“Tenaga ahli dari Turki itu kemudian menetap di Aceh. Konon katanya perkampungan mereka di Emperom,” katanya, sambil menggoyang-goyang kursinya.

“Empu itu kan artinya tukang atau ahli. Rom itu kan simbol atau istilah untuk menyebut Romawi Timur, tapi Rom di sini maksudnya Turki.”

Sultan Kerajaan Aceh Darussalam generasi ke-3 , Ala’ad-din Riayat Syah al-Kahar (1537) mengambil langkah resmi mengakui kekuasaan Sultan Turki atas Aceh, dengan imbalan berupa bantuan militer turki untuk melawan Portugis. Kenangan-kenangan dari hubungan singkat ini terus dihidupkan di Aceh oleh bendera merah Ottoman yang masih dikibarkan oleh para sultan, dan oleh meriam besar “lada secupak” yang menjaga dalam (istana raja dan perkarangan) di Banda Aceh.

Bendera dan meriam ini dihormati sebagai pemberian khalifah, lambang perlindungan bagi kerajaan bawahannya yang terletak nun jauh di sana.

“ADA semacam kesepakatan dari kedua belah pihak bahwa Aceh itu adalah proktektorat Turki. Jadi setiap tahun ada hadiah dari Aceh ke Turki sebagai pengakuan persaudaraan,” kata Ketua Museum Aceh, Nurdin AR kepada saya di tempat yang berbeda.

“Semacam upeti?” tanya saya.

“Jangan dibilang upeti lah, katakanlah semacam hadiah. Demikian juga dengan Turki, negara itu juga kasih bantuan banyak sekali atas pemintaan al-Kahar. Ada bantuan armada, tenaga ahli, ada transfer ilmu teknologi perang juga,” katanya sambil membetulkan letak kacamatanya.

Nurdin bertubuh berisi. Wajahnya mungil, berkacamata dan penuh senyum. Pagi itu Nurdin bersetelan kuning khas Pegawai Negeri Sipil (PNS). Di waktu senggangnya, ia sering terlihat memperhatikan ruang koleksi buku museum yang terdapat tepat di depan ruang kerjanya.

“Kemudian teknik bertempur. Di Aceh itu dikenal dengan seni bela diri geudeu-geudeu, yang masih dipertunjukkan di Pidie. Itu dulu latihan perang-perangan yang di bawa dari Turki. Sekarang katanya, saya tidak pernah ke Turki… katanya ada salah satu suku di situ ada seni bela diri seperti geudeu-geudeu di Sigli,” katanya, bangga.

Nurdin juga mengatakan bahwa banyak armada Turki yang diberikan untuk Aceh sehingga armada tersebut masih dipakai di masa sultan Aceh yang sangat tersohor, yaitu Iskandar Muda.

“Jadi kemudian ada emosi barangkali, kedekatan emosi antara orang atau Kerajaan Aceh dengan Kerajaan Turki Usmani, juga karena keyakinannya,” katanya.

Sultan Selim II dari Kemaharajaan Turki dinasti Ottoman mengirimkan 15 kapal perang dan dua kapal pembekalan untuk menyokong Aceh melawan Portugis. Pemberian bantuan dilakukan melalui firman (keputusan) Sultan Selim II, tertanggal 20 September 1567, sebagai jawaban atas permintaan Sultan Aceh, Alaudin Riayat Syah.

“Di Turki bintang bulan, kita juga bintang bulan. Selain itu bintang bulan juga sebagai lambang muslim. Kemudian sebagai ciri khas Aceh ditaruh pedang on jok,” kata Nurdin.

Pendapatnya tentang Alam Peudeung sama seperti pendapat Rusdi.

“Kita lihat ini persis pedang Aceh. Ini ada tameng di tangan. Ini kunci pedang (ia menunjuk ukiran didepan gagang pedang), pedangnya juga tipis dan lentik seperti daun aren kemudian ada ini (ia menunjuk benda runcing yang menyerupai paku di belakang pegangan pedang), ini juga senjata pamungkas,” lanjutnya.

Menurut Nurdin, ketika pemakai pedang terdesak dalam pertempuran, ujung pedang tersebut dapat menjadi senjata yang ampuh untuk melukai atau memberikan kejutan balik ke lawan.

Pembicaraan kami akhirnya kembali ke bendera.

“Orang Aceh menyebut bendera: alam. Dari kata Arab. Ini kan yang disebut bendera Aceh.” Nurdin menunjuk kertas salinan ilustrasi bendera yang bergambar sebilah pedang terlentang dan bulan bintang di atasnya.

“Kalau itu kan tidak disebut (Alam Peudeung). Disebut bendera perang! Iya kan. Maka bendera perang itu selalu diiringi oleh pedang. Pedangnya berbeda, lalu di dalam ini ada tulisan-tulisan semacam ajimat penangkal, hikmah-hikmah yang dipakai dalam pertempuran untuk memecah pasukan lawan agar menang, supaya pasukannya berani,” tuturnya, panjang lebar.

Nurdin membaca satu demi satu tulisan Arab yang tertera di balik bendera tersebut.

“Nah ini Ali…ini kan salah satu panglima perang ketika zaman Nabi. Lau….” Ia kembali meneruskan bacaannya, “Ya man huwa (wahai Dia)..Ya man la illaha illa huwa (Wahai Dia, tiada Tuhan melainkan Dia).”

“Kenapa ada dua bendera dalam satu negara?” tanya saya, heran.

“Ini kan kalau dalam keadaan damai dipakai bendera putih. Semacam pertanda membawa misi damai. Tapi kalau mau bendera Aceh seperti bendera merah putih ya… ini (menunjuk bendera yang bergambar pedang serta bulan bintang),” jawabnya.

“Dulu ini (bendera perang yang direbut Belanda dari pasukan Kerajaan Aceh di Barus) ada di sini (Museum Aceh) tapi entah siapa yang pinjam. Pada saat zaman (kepemimpinan) Pak Zakaria dulu, bukan pada saat kepemimpinan saya. Entah kepala yang ketiga, pokoknya jauh sebelum saya.” Nurdin mencoba mengingat-ingat.

“Saat itu kondisinya memang sudah hancur, kemudian ada orang yang pinjam. Saya juga belum pernah lihat bendera itu, tapi kalau bendera warna putih kita masih punya,” tuturnya.

“Bendera tersebut secara fisik tidak ada lagi, tapi secara memori kolektif kita tidak hilang kan,” katanya, lagi.

“GAM (Gerakan Aceh Merdeka) memakai garis hitam, itulah dinamika, perkembangan, tapi identitas Aceh tidak pernah hilang, bintang bulannya,” tambahnya sembari, kembali tersenyum.

GAM memakai lambang bulan bintang di atas dasar merah dengan tambahan beberapa garis pada tepi atas dan bawahnya.

Nurdin mengatakan bahwa bila orientasi masyarakat berbeda maka lambang akan berbeda. Simbol itu penting buat orang Timur, katanya.

“Kehidupan bisa saja berubah, apakah di Aceh cukup ada Alam Peudeng dan sebagainya mungkin itu bisa berubah lagi tergantung harapan masyarakat. Karena harapan itu adalah doa kan.” Ia kembali terseyum.

WACANA tentang bendera Aceh mulai berhembus ketika isi poin 1.1.5 Perjanjian Helsinki menyatakan bahwa Aceh memiliki hak untuk menggunakan simbol-simbol wilayah, seperti bendera, lambang dan hymne. Hal ini kembali ditegaskan dalam Undang-Undang Pemerintahan Aceh Nomor 11 tahun 2006. Khususnya pasal 246 ayat 2 dan 3 serta bunyi pasal 247. Lambang tersebut berkedudukan sebagai identitas daerah yang berfungsi sebagai pengikat kesatuan budaya masyarakat daerah dalam kesatuan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Jika Rusdi Sufi dan Nurdin AR sependapat bahwa Alam Peudeung adalah bendera yang bergambar pedang on jok dan bulan bintang di atasnya, maka Ridwan Azwad, sekretaris Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh (PDIA) berpendapat beda.

“Saya sangsi (ragu) itu adalah Alam Peudeung,” tutur Ridwan, merujuk pada ilustrasi alam peudeung yang ada di buku Tarikh Aceh dan Nusantara karya Zainuddin.

“Saya lebih mengarah ke Brooshoff. Dia bilang ada keris bersilang. Tidak dibilang bintang beulen (bintang-bulan) kan. Kalau pun ada gambar yang beredar tapi kita sanksi juga dari mana mereka dapatkan… bisa saja ini imaginasi saja,” tuturnya.

Brooshoff adalah penulis buku Geschiedenis van den Atjeh Oorlog 1873-1886 (Sejarah Perang Aceh 1873-1886). Buku yang diterbitkan tahun 1936 tersebut berbahasa Belanda dan belum diterjemahkan ke bahasa Indonesia.

Dalam buku tersebut ditulis: De Atjehsche vlag is den witte kris op een rood veld. Soms ziet men ook in plaats van de kris, twee witte gekruiste klewang (Bendera orang Aceh adalah bergambar keris putih pada dasar berwarna merah, terkadang juga orang melihat keris tadi, menjadi dua pedang (klewang) putih yang bersilang)

“Apa pengertian keris di situ rencong? Bisa jadi saat itu dia tidak tahu nama senjata kita itu. Soalnya mirip keris kan,” tutur Ridwan.

Rencong adalah senjata tradisional Aceh yang diciptakan di masa Sultan al-Kahar. Bentuknya menyerupai huruf L, dan bila dilihat lebih dekat bentuknya menyerupai kaligrafi tulisan Bismillah.

Ridwan juga menceritakan bahwa dalam buku Kreemer jilid II dikatakan bendera Aceh bernama Alam Cap Peudeung yang juga dinamakan Alam Radja. Di situ juga disebutkan ada “alam” merah saat perang, juga “alam” putih saat damai yang disebut alam ta’ lo.

Sejak kecil Ridwan terbiasa dengan buku-buku sejarah. Maklum, kakek dan ayahnya juga berkerja di bidang yang sama. Ayahnya, Aboe Bakar, bahkan pernah menjabat direktur harian PDIA. Ketika itu ayah Ridwan banyak menerjemahkan buku-buku berbahasa Belanda ke bahasa Indonesia guna memperkaya referensi sejarah Aceh.

“Tapi saya lebih cenderung (pada) laporan di buku Broshoof. Memang orang Aceh ada istilah panji. Tapi saya selain yang Broshoof bilang itu, yang lain masih kabur,” katanya, tegas.

Ridwan juga mempertanyakan sumber keterangan soal Alam Peudeung yang terdapat di buku Zainuddin.

“Jangan mentang-mentang ada lukisan itu kita langsung mengatakan itu Alam Peudeung. Kapan dia lukis itu, bagaimana sumbernya? apakah imajinasi? Tidak jelas,” ujarnya, dengan mimik serius.

Dalam Tarikh Aceh dan Nusantara terdapat gambar penyambutan Sultan Alaudin Riayat Syah al-Mukamil terhadap utusan dari Ratu Inggris Elizabeth I di bawah pimpinan Sir James Lancaster. Tampak beberapa orang penari berpakaian seperti penari Hindu dalam gambar tersebut. Namun, tidak dijelaskan bahwa gambar itu ilusrasi pelukis Belanda bernama C. Jetses yang mengkhayalkan penyambutan Lancaster dalam bentuk lukisan!

“Itu hal kecil tapi bisa jadi ribet nantinya. Bagaimana kalau itu dikutip lagi sama buku lainnya,” kata Ridwan, gusar.

“Kalau di buku Van Langen, Weskuest van Aceh (Aceh bagian Pantai Barat) ada pernah saya lihat gambar bendera yang pernah direbut di pantai barat. Tidak ada bulan bintangnya,” kenangnya.

“Kalau saya pribadi masih kabur, pajan bendera nya na (kapan bendera itu ada). Timbul pertanyaaan apa pada Ali Mughayat Syah sudah ada bendera. Dulu kan kerajaan Ali Mughayat Syah kecil, kemudian jadi besar,” tuturnya.

Ali Mughayat Syah adalah pendiri Kerajaan Aceh Darussalam. Pada awalnya sebuah kerajaan yang terletak di ujung pulau itu bukan kerajaan penting namun setelah mempersatukan semua kekuatan anti-Portugis yang bermarkas (telah menguasai) di Pidie (1521) dan Pasai (1524), kerajaan tersebut besar dan memainkan peranan penting dalam monopoli eksport hasil produksi Sumatra dan Malaka.

“Yang jelas Alam Peudeung itu pada zaman yang sultan sudah kuat, tapi kita belum tahu yang mana,” sambungnya.

“Tapi Pak, dalam ingatan kolektif orang tua itu kan masih tinggal kenangan bendera Peudeung?” bantah saya, terkenang ucapan Nurdin tentang ingatan orang-orang tua.

“Orang tua itu berapa umurnya?” Ia terseyum penuh arti. “Orang zaman itu kan sudah mati, belum tentu mereka mewariskan ceritanya kepada anak-anak mereka,” lanjut Ridwan.

“Dalam sejarah, kesaksian itu ada dua, primer atau penyaksi langsung dan sekunder atau dari orang kedua. Contohnya seperti kita bilang kata neneknya, kan itu bukan dia yang lihat. Tidak setiap keterangan kita harus percaya kalau kita kembali ke metodologi sejarah. Jadi jangan setiap yang datang kita telan semua,” katanya.

Alam Peudeung itu sendiri dari sumber Belanda, tapi tentu saja dia melakukan dengan riset yang kuat. Kalau saya tidak bisa terima ilustrasi tersebut, apa betul begitu? Kalau kita lihat laporan Belanda itu kan bersilang. Lagian tidak pernah disinggung kan bendera kita bintang buleun, “ jawabnya dengan nada sedikit tinggi. Setelah itu ia menghela napas.

“Jangan terima begitu saja sumber yang tidak jelas, kita mesti kritis,” tuturnya. Ridwan ingin ada penelitian lebih lanjut tentang bendera Aceh.***

*) Novia Liza adalah kontributor Pantau Aceh Feature Service di Banda Aceh. Ia mahasiswa Fakultas Dakwah Institut Agama Islam Negeri Ar Raniry

Tak Ada Lagi Barongsai

Tak Ada Lagi Barongsai
Oleh  Novia Liza


VIHARA Dharma Bhakti tampak berbeda pagi itu. Tempat yang biasa terlihat sepi itu dipenuhi banyak warga Aceh keturunan Tionghoa.Lampion merah telah dipasang. Wadah dupa berukuran raksasa dengan bentuk kepala naga dipajang berjejer di depan pintu masuk vihara. Asap tebal membubung dari pembakaran dupa, beraroma khas dan mencipta debu yang bertebaran seperti salju di mana-mana. Lilin merah besar berukiran naga ditaruh di depan patung-patung dewa.

Tiba-tiba seorang ibu tua berkaus oblong merah muda dengan paduan rok coklat gelap dan dilengkapi  tas selempang kecil di bahu keluar tergesa-gesa dari pintu masuk. Tangannya memegang beberapa helai kertas warna-warni yang didominasi warna merah dan… sedang terbakar.

Ia bergegas menuju tungku yang menyerupai rumah merah dengan atap berbentuk prisma itu. Bagi saya, tungku itu mirip tempat penyimpanan air jika tidak ada lubang berbentuk segi empat di bawahnya.

Keringat mengucur deras di wajah Lelly  Fajar.

“Hari ini Tahun Baru Imlek, tanggal satu buat kami keturunan Tionghoa, kalau Indonesia tanggal tujuh ya,” kata Lelly, sembari tersenyum lembut. Kalender hari itu menunjuk tanggal 7 Februari 2008.

“Semalam kami sembahyang sudah ucap terimakasih pada Tuhan Pe Kong dan Quan Im. Hari ini di permulaan tahun, kami kembali berdoa minta pertolongan dari Tuhan untuk lindungi kami, jauhkan kami dari tsunami atau segala-gala yang tidak baik,” katanya, seraya mengelap butiran keringat di wajahnya.

Tahun Baru Imlek adalah salah satu hari raya tradisional Tionghoa, yang dirayakan pada hari pertama dalam bulan pertama kalender mereka, yang jatuh pada hari terjadinya bulan baru kedua setelah hari terjadinya hari terpendek musim dingin di Tiongkok. Kalender tersebut dibuat dengan menggabungkan kalender bulan dan kalender matahari.

“Tadi yang dibakar kertas apa, bu?” tanya saya, penuh rasa ingin tahu.“Kertas ini terdiri dari atas nama kami yang berniat, sedikit syarat sembahyang. Ini untuk tahu bahwa kami datang,” jawabnya,  tersenyum.

“Seperti ini adalah membawa (memberitahu) kepada Tuhan bahwa kami yang datang. Kalau kami tidak bawa ini, Dia tidak tahu kami yang datang,” katanya, menunjuk sehelai kertas yang telah dibakarnya.

“Jadi kalau kita tidak panggil atau tidak buat apa-apa (membakar kertas sembahyang), Tuhan tidak tahu. Ini siapa gitu ya,” lanjutnya, tertawa kecil.

“Setelah sembahyang kami mengunjungi orang tua atau yang kami tuakan, kemudian kami mengunjung ke tetangga,” katanya.

Lelly mengibas-ngibaskan abu dari pembakaran dupa yang betebangan ke wajahnya.

Perayaan Imlek di Aceh berlangsung sangat sederhana. Tak ada bunyi petasan dan atraksi Barongsai.  Hanya satu dua ruko (rumah toko) warga Aceh keturunan Tionghoa yang menggantungkan lampion di depan tempat usahanya itu.

Perayaan berpusat di vihara. Salah satunya di Vihara Dharma Bakti, yang merupakan klenteng terbesar di Banda Aceh. Letaknya sangat strategis, masuk dalam area pusat  perdagangan Peunayong.

Setidaknya ada lima ribuan keturunan Tionghoa yang tinggal di kawasan Peunayong dan Pasar Aceh. Sebagian besar mereka berdagang di situ pula.

Tiga ribu dari mereka beragama Budha, sedang sisanya beragama Katolik, Kristen Methodis dan ada juga yang memeluk Islam.

“Di sini kita rayakan pergantian tahun Imlek dengan cara sederhana. Rumah saja tidak banyak yang pakai aksesoris Tionghoa,” ujar Lelly, lalu diam sejenak. “Itu karena kita tidak ingin terbentur, di sini kita Aceh ya. Kita masih menghormati Aceh juga.” Ia kembali tersenyum.

“Termasuk syukur kita di sini, mereka boleh izinkan kami sembahyang. Jadi kita hormat-menghormati, jaga-menjaga.”

“Tidak pernah ada larangan-larangan. Termasuk Aceh ini kasih izin segala aktifitas agama kami, seperti sembahyang, semua diizin,” tandasnya.

”Saya sejak lahir di sini, dari sejak ibu saya lahir di sini. Sudah termasuk seratus tahun. Tidak akan  ke mana-mana lagi,”  lanjutnya, tertawa.

Seusai berbincang, kami masuk ke dalam vihara. Sebelum meneruskan ritual agamanya, Lelly memberikan kertas yang bertuliskan namanya, Lelly Fajar, dan sederet aksara Cina.

“Ini nama Chinese ibu ya?” tanya saya sambil mengambil kertas tersebut. “Tapi saya tidak bisa baca ini bu, bisa ditulis dalam huruf latin,” pinta saya.

Lelly menuliskan nama Tionghoanya untuk saya: Lay Jek Sin.

“Sesudah WNI (warganegara Indonesia), kami tidak boleh lagi pakai nama Chinese, harus pakai ini.” Ia menunjuk nama Indonesianya.

“Saya tidak ingat lagi tahun berapa itu. Kalau tidak salah, waktu saya sekolah SKKA (Sekolah Keterampilan dan Kejuruan Atas), tahun ‘65 kalau tidak salah,” jawabnya sambil mengingat-ingat kembali tahun pastinya peraturan pemerintah itu diterapkan.

Orde Baru melarang segala yang berbau Tionghoa. Salah satunya soal ganti nama. Hal ini merupakan keputusan Presidium Kabinet No.127/U/Kep/ 12/1966. Kebijakan ini mencerminkan watak pemerintahan yang militeristik, yaitu ingin menyeragamkan semua hal, menghilangkan identitas tiap bangsa dan budaya yang ada di Indonesia, dan mengobarkan rasa benci pada perbedaan.

Belum puas dengan menerapkan peraturan ganti nama, pada tanggal 6 Desember 1967 Soeharto yang ketika itu menjabat presiden mengeluarkan Instruksi Presiden (Inpres) No.14/1967 tentang Agama, Kepercayaan dan Adat-Istiadat Cina. Isinya semua upacara agama, kepercayaan dan adat-istiadat Cina hanya boleh dilakukan di lingkungan keluarga atau di dalam ruangan tertutup. Maka lenyaplah kemeriahan perayaan Tahun Baru Imlek sejak saat itu. Cap Go Meh, lomba perahu naga, bahkan tarian Barongsai hilang.

“Dulu saat pelarangan itu, bagi kami yang berniat tidak kami dengar juga. Kami punya agama Budha. Seharusnya kami punya hati sendiri. Walau ada perintah dari siapa pun, kami jalani terus (ibadah agama). Walau hari itu dilarang, sembahyang tetap. Walau di sini, walau di rumah,” kata Lelly, lirih.

Mimik wajahnya segera berubah. Keceriaan mulai lenyap di wajahnya.

“Terakhir saya lihat Barongsai itu waktu saya kecil. Saya lupa juga tahun berapa itu, sudah lama sekali,” kenang Lelly.

“Ini karena kami di Banda Aceh, kalau di Medan agak terbuka kalau di sini agak……belum. Mungkin kami suatu waktu ada (akan dilaksanakan).”

“Apa karena takut?”

“Oh tidak, pemerintah di sini bagus mau memberi izin kami, mungkin kami belum mampu sampai ke sana. Sebab Barongsai mesti dilatih dan diapa-apain. Karena itu (Barongsai) bukan sembarangan bisa pakai, mesti dilatih  bagaimana  gerakannya,” jawabnya.

“Tepatnya karena kita belum sanggup, bukan tidak kepingin. Bila kami minta, pasti dikasih. Karena pemerintah di sini baik, ya cukup baik meladeni orang Tionghoa di sini,” lanjutnya, panjang lebar.

Tarian Barongsai diawali dengan atraksi di depan vihara kemudian diteruskan ke setiap rumah penduduk untuk meminta keselamatan penghuni rumah yang didatanginya. Terkadang penduduk setempat memasang “ang pau” (uang dalam amplop) di depan pintu rumahnya untuk si Barongsai.

Kendala lain adalah untuk menyelenggarakan tarian Barongsai dibutuhkan dana tak sedikit.

“Pernah kita tanya waktu tahun 2005, dari Medan kita pingin undang ke Aceh tapi dengan harga 60 juta. Dengan harga segitu besar, kita pikir buang-buang duit saja,” kata Hasan, yang saya temui di vihara yang sama keesokan harinya.

“Akhirnya kita batalkan,” lanjutnya.

Hasan adalah salah satu pengurus Vihara Dharma Bhakti. Ia  menjabat  Sekretaris Yayasan Dharma Bhakti.

“Kalau di Aceh setiap ada Imlek kami tidak merayakan secara besar-besaran, tetap biasa saja. Tidak perlu seperti di Medan dan di Jakarta. Cukup datang sembahyang dari umat untuk minta rezeki dan kesehatan,” katanya.

Uang kas yayasan pun tidak terpakai banyak.

“Memang ada saat perayaan pergantian tahun, jam 12 malam itu, kita sediakan buah dan kue untuk persembahan dan dupa untuk sembahyang. Tapi itu tidak besar (nilainya), lagian dupa kan dijual,” ujar Hasan, seraya beranjak dari tempat duduknya.

“Dupa ini bagian dari adat sembahyang,” katanya, seraya menunjukkan seikat dupa yang dibalut plastik transparan.

“Besar kecilnya tergantung pada kemampuan. Kalau yang mampu beli besar, mana tahu dagangnya sukses tahun ini, ya mereka beli dupa besar,” tuturnya.

“Biasanya datang kita hormat pada yang tengah ini (wakil Tuhan),” kata Hasan. menunjuk satu patung yang letaknya di tengah patung dewa-dewi. “Kalau Tuhan langsung di luar (beri hormatnya),” lanjutnya.

“Yang terakhir pada Tuhan Tanah di sudut samping altar utama.”

Biasanya di tiap altar dewa ditancapkan tiga dupa atau kelipatannya dalam wadah yang terbuat dari kuningan, kemudian disusul dengan membakar kertas sembahyang di luar vihara.

“Dupa itu mereka ambil dengan membayarkan uang pengganti. Tapi kita tidak patokkan harganya,” katanya, tersenyum.

“Seperti minyak ini, kadang yang dimasukkan (ke kotak amal) lima ribu padahal harganya Rp 10 ribu, tapi juga ada yang masukkan Rp 50 ribu.” Ia tertawa.

“Ini minyak malinda, untuk menghidupkan terus lampu penerangan. Jadi lampu itu bisa hidup terus siang dan malam.” Hasan menunjukkan lampu itu kepada saya.

“Supaya mudah dapat rezeki, harus terang. Karena kalau kita tidak terang, apa yang kita cari semua tidak dapat dan tidak berhasil,” tuturnya.

Lampu penerangan terdiri dari mangkuk kuningan yang diisi dengan minyak malinda sebagai bahan bakar sumbunya.

Ada tujuh lampu di vihara itu. Lima di altar utama di bagian depan. Satu di altar Dewa atau Tuhan Tanah yang terdapat di sudut kiri ruang dalam vihara, dan satu lagi di altar luar.  Pemuja yang datang akan membagi isi botol minyak malinda ke setiap lampu.

“Kemarin (saat  Imlek), kami berkumpul bersama keluarga. Mengunjungi orang yang dituakan, kemudian tetangga, kawan. Seperti kalianlah,” kata Hasan merujuk kepada perayaan Lebaran dalam agama saya, Islam.

“Kalau Imlek, anak-anak umumnya berpakaian baru. Memang Imlek tidak seharusnya pakai baju baru, tapi banyak yang menganggap tahun baru itu lembaran baru, jadi harus pakai yang baru biar tahun yang akan datang lebih lancar lagi usahanya.” Tawanya kembali pecah.

“Panganan khas Imlek itu, Kue Keranjang. Setiap rumah pasti ada kue itu di samping kue lainnya. Tapi biasanya kita beli, tidak buat lagi soalnya repot buatnya. Butuh satu hari untuk mengukus kue keranjang. Repotkan?” Ia menatap saya, kemudian tersenyum, dan berkata, “Mending beli saja di toko.”

Hari itu Hasan berkaus hitam dengan tulisan “Thailand” di bagian dada. Tubuhnya gempal. Kulitnya hitam, berbeda dengan keturunan Tionghoa yang umumnya berkulit kuning atau lebih terang.

“Yang unik di Imlek, biasanya orang tua kasih ang pau bagi anak atau famili. Maknanya untuk mengucapkan terima kasih biar kesehatan dan usahanya lebih bagus,” katanya.Menurut Hasan, besar ang pau tergantung kemampuan si pemberi. Nilainya tak terletak pada jumlah uang, tapi pada maknanya. Warna merah amplopnya merupakan warna kesuksesan. Orang tua memberikannya kepada anaknya agar sang anak sukses.

“Ibaratnya itu doa orang tua,” lanjut Hasan.

“Gong xi fat cay  kalau kata orang. Gong Xi, kan salam.  Fat Cay itu maksudnya berkembang, sukses.” Ia menyebut arti nama lain hari raya Imlek.

Hasan tertawa ketika saya menanyakan jumlah ang pau yang diterimanya. Ia memberinya kepada orang lain. Ia juga memberi ang pau untuk anaknya, teman yang lebih muda, dan tetangga.

Pengunjung Vihara Dharma Bakti rata-rata orang tua. Di Vihara Sakyamoni, yang berjarak dua kilometer dari sini, lebih banyak muda-mudi dan mereka belajar doa tiap Jumat malam.  Di Dharma Bakti yang datang kebanyakan pedagang.

Dana vihara  berasal dari sumbangan umat yang sembahyang sebulan dua kali. Dalam sebulan jumlah yang terkumpul sekitar Rp 3 jutaan.

Dana  itu kemudian disimpan  di bank untuk dipergunakan di hari-hari tertentu atau keperluan tertentu, misalnya untuk perbaikan atau membuat kuburan warga Tionghoa.

“Paling keperluan bulanannya, listrik, air. Gaji satu orang pegawai. Kayak saya, bantu-bantu, jadi mana ada gaji,” ujar Hasan, tertawa.

“Terkadang orang sembahyang membawa beras dan minyak, terutama dekat Imlek, banyak yang bawa begituan. Kemaren saja ada satu orang menyumbangkan sepuluh goni,” katanya bangga. “Sumbangan itu serta sedikit uang dari kotak amal kita serahkan ke Rumah Jumbo. Itu rumah sosialnya kita. Jadi mereka yang membagikan sumbangan tersebut ke fakir miskin.”

“Bagi kami kalau punya famili menderita berarti hidup kita itu di atas penderitaan orang lain. Kan famili tu dari orang tua kita, kalau tidak ada mereka kan, kita  hari ini tidak bisa senang,” katanya tegas, sambil mendelikkan mata.Hasan sudah 20 tahun di Vihara Dharma Bhakti. Ketika remaja ia aktif di Vihara Sakiyamoni.

“Pindah dari Sakiyamoni karena ortu (orang tua) saya yang jadi pengurus vihara ini meninggal, kemudian saya dipilih sebagai wakil ketua tahunan. Sekarang saya jadi sekretaris yayasan,” katanya bangga.

Perayaan Imlek yang paling meriah tahun berapa?

“Saya  pikir sesudah tsunami ini perayaan Imlek lebih meriah. Itu karena sesudah tsunami semua manusia di Aceh ini kesadarannya lebih bagus, lebih percaya kepada Tuhan. Apalagi korban yang mencari uang sampai 40 sampai 50 tahun, tapi dalam sekejap habis.”

Kawasan Peunayong, tempat tinggal sekaligus usaha warga keturunan Tionghoa Aceh, tak luput dari tsunami pada 26 Desember 2004 silam. Tinggi air yang diperkirakan satu setengah meter itu menggenangi dan bahkan merusak tempat usaha mereka.

Pagar tembok yang mengelilingi Vihara Dharma Bhakti ikut rusak.

“Tiga puluh juta habis untuk perbaikan pagar sekeliling vihara. Untuk pembersihan lumpur dilakukan suka rela oleh masyarakat. Ya, ada sekitar 10 orang datang bersih-bersihkan tempat ini. Sukarela kita,” kata Hasan, mengibas-ngibas kertas sebagai kipas, karena kepanasan.

Dharma Bhakti dibangun tahun 1936 dengan nama Ta Pek Kong, nama salah satu dewa. Saat itu bentuknya sederhana:  rumah kayu beratap seng. Setelah tahun 1960, baru didirikan dengan bahan beton. Pendirinya, Fung Chung Ming dan sudah almarhum.

“Dulu ada vihara lainnya  di Ulee Lheue yang dibangun di tahun yang sama,” kisah Hasan. Ketika tentara pendudukan Jepang mendarat di Aceh, vihara itu dibom hingga hancur.Nama Vihara Dharma Bakti menggantikan Ta Pe Kong, karena pemerintah Orde Baru mengharuskan nama tempat ibadah Tionghoa menggunakan kata “vihara”.  Salah seorang pengurus, pemilik toko Bima di Peunayong, berinisiatif memberi tempat ibadah ini nama: Vihara Dharma Bakti.

Vihara sebesar rumah bertipe 3×6 meter persegi ini didominasi warna merah.  Namun, letaknya tidak sesuai dengan feng shui yang lazim dipakai orang Tionghoa sebagai untuk pedoman letak bangunan.

“Kalau kita untuk tempat sembahyang tidak pakai feng shui. Itu cuma kita gunakan untuk bangunan rumah dan tempat usaha bukan kepada Dewa,” kata Hasan.

Percakapan panjang kami terhenti ketika seorang pria setengah baya datang. Setelannya rapi,  kemeja biru dan celana hitam.

“Itu ketua yayasan kami, Kemarin dia yang jadi ketua Pemuda Pancasila di kota Banda Aceh. Lihatkan karangan bunga ucapan selamatnya untuk Yuswar,” kata Hasan, bersemangat.

Hasan pun mendatangi pria tersebut dan bercakap dalam bahasa Mandarin. Sesekali pria itu melirik ke arah saya.

Yuswar menjabat  Ketua MPC (Majelis Pimpinan Cabang) Pemuda Pancasila  sekota Banda Aceh periode 2007 hingga 2011. Selain itu, ia juga  aktif di berbagai organisasi seperti Persatuan Basket Seluruh Indonesia (PERBASI) dan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).

“Dulu saya Ketua II Palang Merah Banda Aceh, tapi saat tsunami saya jadi korban jadi harus berobat. Telinga kanan saya hingga saat ini sulit mendengar,” katanya. Tapi tak ada lagi kesedihan yang tergurat di wajah itu.

“Saat tsunami, saya di toko sendiri, Fajar Studio. (Saya) Terbawa air,  kemudian nyangkut di penjara Keudah. Istri sama anak dua hilang. Tapi  anak saya yang hidup juga dua, besok mau married (menikah) lagi,” lanjutnya.

“Saya di yayasan baru setahun lebih. Beberapa hari lagi ada pemilihan ketua harian vihara. Saat ini saya ketua di yayasan juga merangkap wakil ketua pengurus klenteng. Kalau Pak Hasan sekretaris yayasan tapi juga pengurus vihara ini. Kalau istilahnya ketua markasnya lah. Hahahahahaha….”

Yuswar dan Hasan pun tertawa serentak.

Menurut Yuswar, semua hal berbau Cina dilarang pada tahun 1968. Barongsai tak boleh ada di Banda Aceh. Pasca Soeharto peraturan itu tak lagi dijalankan.

“Terus- terang kami merasa senang, sudah bebas tidak ada lagi diskriminasi. Memang  satu dua masih ada yang harus diperjuangkan, tapi secara umumnya kami sekarang ini sudah cukup puaslah. Karena kepres-kepres (keputusan presiden) yang mengatakan nama Tionghoa tidak boleh dipakai sekarang sudah boleh. Kemudian  bahasa, sekolah , majalah, tulisan sudah boleh digunakan. Imlek contohnya, sudah jadi libur nasional. Dulu jangan kan untuk libur, perayaan saja tidak boleh. Hehehehehe….”

Warga keturunan Tionghoa di Indonesia kembali mendapatkan kebebasan merayakan Tahun Baru Imlek pada tahun 2000, ketika presiden Abdurrahman Wahid mencabut Inpres Nomor 14/1967. Kemudian presiden Megawati Soekarno  menindaklanjutinya dengan mengeluarkan Keputusan Presiden Nomor 19/2002 tertanggal 9 April 2002, yang meresmikan Imlek sebagai hari libur nasional. Mulai 2003, Imlek resmi dinyatakan sebagai salah satu hari libur nasional.

“Kalau imlek itu sebenarnya lima belas hari dari tanggal satu Imlek sampai tanggal 15. Jadi dulu-dulunya, waktu masih ada Barongsai tanggal 15 itu lah namanya hari Cap Go Meh. Cap Go Meh itulah untuk merayakan dengan Barongsai,” tutur Yuswar.

Istilah “cap go meh” ini berasal dari dialek Hokkian dan secara harafiah berarti hari kelima belas dari bulan pertama.

“Sebenarnya saya sangat ingin dan merencanakan supaya Barongsai itu didatangkan ke Banda Aceh. Ya, kita hidupkan kembali. Paling tidak sebagai hiburanlah,” katanya, optimistis.

“Bayangkan, ‘68 sampai sekarang 2008. Empat puluh tahun anak-anak saya, mungkin adik saya pun belum tahu Barongsai itu seperti apa. Paling kita tahu di tivi atau kalau kita ke luar daerah,” katanya, lantang.“Sebenarnya ada kendala lain lagi untuk mengadakan Barongsai di Aceh. Pemain lama di Aceh sudah habis, meninggal semua, tidak ada lagi. Dulu waktu mereka main Barongsai saja, saat saya masih kecil, umur mereka 30 tahunan.  Tambah 40 tahun kan 70 tahun. Umur segitu umumnya kan sudah meninggal.”

Keputusan di masa Soeharto membuat kaderisasi penari Barongsai terhenti.

Yuswar mengatakan bahwa dalam waktu dekat dia akan mendekati klab Barongsai yang ada di Sumatra Utara.

“Jadi kita dekati dulu mereka dan kita lihat apa tanggapan mereka. Kalau sudah ada, baru kita bicarakan di Banda Aceh dengan kawan pengurus bagaimana untuk mendatangkan, dana dan sebagainya. Kita kan harus mengurus izin dan sebagainya. Ya, pokoknya kita lihat waktunya.” Ia kemudian terkekeh-kekeh lagi.

“Jangan kita anggaplah itu budaya Tionghoa atau Cina, tapi kita anggap itu budaya sebagai khasanah penambahan bendahara budaya kita. Karena  etnis Cina itu bukan baru di Aceh. Iya kan? Udah dari abad berapa di Aceh? Misalnya Cheng Ho, malahan dia bawa agama Islam. Jadi orang Tionghoa itu bukan baru. Kenapa tidak terima budaya orang ini sebagai salah satu etnis di Indonesia? Kita ada etnis Jawa, Batak, kenapa salah satunya bukan etnis Tionghoa dengan budayanya itu,” katanya.Ia juga menyebut bahwa atraksi barongsai di Aceh bisa menarik wisatawan.

Berdasarkan catatan sejarah, hubungan Aceh dan negeri Tiongkok sudah lama terjalin sejak abad ke-13. Pedagang-pedagang Cina datang dan bahkan menetap, mendirikan kampong Cina di pinggiran pelabuhan yang sekarang diperkirakan letaknya di Peunayong.

“Tahun 2002 sempat mau diundang Barongsai. Kita sudah punya dana, tapi orang Medan tidak berani datang karena takut dengan keadaan Aceh saat itu,” kata Yuswar, lirih.

Yang ia maksud adalah situasi konflik di Aceh saat pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) belum berdamai. Meski selama 30 tahun konflik itu tidak terjadi kekerasan fisik terhadap orang-orang Tionghoa, tetap saja dalam urusan perdagangan menjadi hambatan besar.

“Yang namanya konflik, di mana-mana saja pasti ada terganggu. Terutama keamanan. Kan kalau keamanan terganggu, susah cari makan. Kemudian saat konflik di Aceh tu, jalan diblokir dan sebagainya. Ya, terjadi juga penghambatan pasokan barang dari Medan, terhambat juga dong usaha kita.”

“Kita di sini walaupun konflik, etnis Cina itu termasuk aman. Saya rasa dari pihak yang bertikai menganggap yang dihadapi pemerintah Indonesia,  bukan masyarakatnya. Bukan etnis tionghoa dan masyarakat lainnya. Kalau harapan saya sama dengan masyarakat umumnya, gimana damai itu abadi. Kalau sudah damai kan aman, jadi segala bidang tu bisa maju. Hahahahahahha….” Tawa Yuswar kembali lagi.Baruzzaman Ismail, Kepala Majelis Adat dan Aceh (MAA) Provinsi Naggroe Aceh Darussalam, mengatakan bahwa selama ratusan tahun orang Aceh telah hidup berdampingan dengan warga keturunan Tionghoa di Aceh tanpa mengalami pergesekkan.

“Tidak pernah ada benturan seingat saya dan dalam cacatan sejarah juga tidak ada,” kata Baruzzaman.

“Jika saya analisis, semangat ekonomi mereka yang memandang lingkungannya sebagai mitranya adalah kunci mereka bisa berbaur di mana saja,” lanjutnya.

“Memang tahun ‘60-an, saat negara kita sangat panceklik. Hampir semua kehidupan  kita antri. Antri rokok, antri beras, antri gula, sementara sebagian  turunan Cina, hidupnya senang. Kemudian diperparah isu komunisme pada masa Orde Baru sehingga ada sedikit benturan. Tapi itu karena dampak politik. Itu pun karena ada pancingan orang. Tapi dari segi Aceh yang katanya sangat fanatik dengan agama itu, tidak pernah ada benturan,” kata Baruzzaman, lagi.

Menurut Baruzzaman, warga Tionghoa tidak punya misi agama di Aceh dan hanya kepentingan ekonomi. Hal itu membuat mereka bisa bertahan di Serambi Mekkah ini.  Mereka juga menghargai tata cara Islam. Menjelang shalat Jumat,  malah toko-toko Cina yang lebih dulu tutup. Syariat Islam di Aceh yang diberlakukan sejak 2001 mengharuskan semua kegiatan berhenti saat shalat Jumat.

“Saya kadang-kadang merenung, kalau hidup kita seperti Cina maka amanlah bumi ini. Ke mana pergi, dia tidak mengganggu agama. Kalau kita kan macam-macam. Ada bujukan beras, bujukan kain. Dia tidak pernah masuk ruang itu. Dia ke tepekong, tapi tidak ganggu orang,” tutur Baruzzaman.

Jam menunjuk pukul 13.30. Vihara Dharma Bhakti yang semula ramai dikunjungi para pemuja telah kosong. Tinggal debu dupa berserak di lantai.

Seorang perempuan tua tampak mengesik lelehan lilin yang mengeras di lantai. Dua lelaki, seorang Tionghoa dan seorang Aceh, duduk beristirahat di ruang belakang vihara.

Lelaki Tionghoa itu terkulai lemas di bangku. “Dari semalam (jam 12) saya bantu-bantu di sini. Capek,” katanya, bernada kesal.

Lon Sabirin (Nama saya Sabirin),” jawabnya, agak ketus, saat saya menanyakan namanya.

“Sabirin Lamno!” teriak teman Aceh-nya, lalu tertawa. Lamno adalah nama sebuah kecamatan di Aceh Jaya.

“Tidak ada semangat apa pun. Bagaimana semangat? Kita sudah tua. Kita syukuran buat apa? Saya tidak semangat,” jawab Sabirin, ogah-ogahan, ketika saya menanyakan makna Imlek baginya.

“Ya, kalau ada uang saya beli Honda, kayak gini apa semangat. Kayak situ semangat, uang banyak.” Ia mencandai saya.

Nyoe Jawa heh? (kamu orang Jawa?),” tanya Sabirin, mencoba menerka asal saya. Maklumlah, banyak pekerja lembaga bantuan yang datang ke Aceh pascatsunami kebanyakan dari Pulau Jawa.

Hanjeut bahasa Aceh leubeh geut matee mantong, Keupe cit tinggal bak Aceh (tidak bisa bahasa Aceh lebih baik mati lah, untuk apa tinggal di Aceh),” katanya.Ureung pungo (orang gila)! Bahasa sendiri ndak bisa, payah pajoh asam sunti (harus makan asam sunti, sejenis belimbing sayur yang dikeringkan),” cetusnya, setelah mengetahui saya orang Aceh, namun tidak berbicara dalam bahasa Aceh. ***

*) Novia Liza adalah kontributor Pantau Aceh Feature Service di Aceh.

No Document, No History

“O’ GOD,  Ik ben getroven (Oh Tuhan aku telah kena),” seru Mayor Jenderal  J.H.R Kohler  ketika peluru seorang penembak jitu Aceh menembus dadanya.

Kohler menghembuskan napas terakhirnya tepat di depan Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada 14 April 1873. Ia tak menyangka kematian menjemputnya secepat itu, hanya berselang beberapa hari sejak pendaratannya di Aceh.

Pohon geulumpang atau kelumpang (sterculia foetida) masih tumbuh di dekat gerbang kiri Masjid Raya sebagai penanda tempat Kohler tertembak. Orang Belanda menyebut pohon itu Kohlerboom atau pohon Kohler.

Kohler adalah pemimpin ekspedisi pertama penyerangan Belanda terhadap Aceh. Tepatnya 6 April 1873, pasukan Kohler memasuki Aceh melalui pantai Ceureumen,Ulee Lheue.

Kini makam Kohler berada di bagian depan Peutjut Kerkhoff atau Permakaman Peutjut atau lebih dikenal dengan sebutan Kerkhof.

Empat bintang emas menghiasi setiap sisi nisan Kohler. Pada nisan itu tercetak kalimat “herbegraven op (dikuburkan kembali pada) 19 Mei 1978”. Lambang seekor ular menggigit ekornya terpahat di bawah nisan.

“Itu artinya bunuh diri,” kata Amri, penjaga permakaman ini. “Coba pikir, kalau menggigit ekor sendiri kan namanya bunuh diri,” lanjutnya, seraya tertawa.

Amri  menerjemahkan lambang tersebut sebagai sikap Kohler yang tak mempedulikan informasi tentang akan adanya serangan saat ia dan pasukannya tiba di Masjid Raya.

“Sudah dibilang jangan pergi, eh pergi juga. Ya, mati ditembak dia,” kata Amri, “Itu kan namanya mati konyol!”

Namun belum ada teks sejarah yang menjelaskan arti gambar ular tersebut.

Setelah Kohler gugur, jasadnya dibawa ke Batavia (sekarang Jakarta)  melalui Ulee Lheue. Ia dikuburkan di daerah Tanah Abang. Rencana pengembangan kota oleh pemerintah kota Jakarta membuat kuburannya tergusur. Pada 19 Mei 1978, abu dan nisannya dipindahkan ke Kerkhof atas permintaan gubernur Aceh saat itu, A. Muzakir Walad. Setelah berselang 105 tahun dari waktu kematiannya, Kohler pun kembali lagi ke Aceh.

Setahun kemudian seorang prajurit terkenal dari Order of Dutch Lion (Kesatuan Singa Belanda) juga dikuburkan kembali di Kerkhof. Letnan kolonel JJ Roeps namanya. Ia terbunuh di pantai dekat perbatasan Aceh, tepatnya di Barus.

Kerkhof, dalam bahasa Indonesia berarti permakamanan. Kata ini dalam bahasa aslinya: kerkhoff, dengan huruf ‘f’ ganda. Kalau dipecah atas dua suku kata, maka ‘kerk’ diartikan sebagai gereja dan ‘hoff’ adalah halaman. Karena kebiasaan orang Belanda yang mayoritas Kristen menguburkan keluarganya di samping gereja, lambat-laun kata “kerkhoff” menjadi sebutan untuk kuburan atau permakaman.

Dengan mengenakan kemeja putih lengan pendek dan celana selutut, Amri mengajak saya mengelilingi sebagian area Kerkhof.

“Saya sudah 18 tahun jadi penjaga kuburan ini,” katanya, bangga.

Ia bersama istri dan empat anaknya tinggal di sebuah rumah yang berada di samping gerbang masuk. Ia tak bekerja sendirian. Ada seorang lagi penjaga kuburan yang bekerja di sini.  Amri memperoleh gaji Rp.800.000 tiap bulan. Di samping itu ia juga punya penghasilan tambahan dengan memanfaatkan lahan di muka gerbang itu untuk berjualan bunga.

Amri menyenangi bunga-bunga. Tak heran taman Kerkhof dipenuhi bermacam bunga. Dari berbagai jenis Cemara, Jeumpa, Seulanga, Bougenvil, Asoka merah dan kuning, Melati, bunga Tasbih hingga Bayam Merah. Sehingga Kerhof lebih meyerupai taman daripada kuburan.

Bagi Amri, Kerkhof sudah seperti rumahnya sendiri.

“Jika kita anggap rumah sendiri, maka kita kerjanya lebih ikhlas,” katanya.

“Rumah gubernur, saya yang dekor kalau lagi ada acara,” katanya, lagi, “Saya orangnya tidak gengsi, kalau tidak mana mungkin saya bisa dapat dua mobil itu,” lanjutnya, sambil menunjuk mobil Kijang Avanza dan mobil pikap  bermerek Chevrolet miliknya yang terparkir di samping rumah.

“Kemari,” ajaknya, “Nah, ini nama-nama pasukan Belanda selama peperangan Aceh.”

Amri menunjukkan deretan nama yang ditoreh di dinding gerbang masuk. Dalam bahasa Belanda gerbang ini dinamai De Erepoort atau Gerbang Kehormatan.

“Ini tandanya dia orang Belanda,” kata Amri. Ia menunjuk huruf E di belakang nama C.VAN DE BOR, E. MAR. “MAR artinya dia Marinir, angkatan laut,” katanya, lagi.

Setiap nama memiliki identitas. E adalah singkatan dari Europeesch, yang ditujukan untuk prajurit Eropa atau Belanda, I merujuk pada kata “Inlander” yang ditujukan untuk anak negeri. AMB menyatakan bahwa prajurit tersebut dari Ambon. M ch menandakan bahwa si prajurit  bergabung dengan korps Marechausse atau oleh lidah Melayu disebut Marsose. F atau Fuselir adalah tanda kepangkatan.

Jika sudah menggunakan AMB maka tidak digunakan lagi I di belakang namanya, cukup F saja atau pangkat lainnya. I dipakai untuk orang Indonesia secara umum.

“TAMB ini artinya dia pemain musik, pemegang tamborin,” kata Amri menunjuk sebuah nama I.H.F HANSCHEN, E. TAMB. MAR. “Dia pemain musik dari Angkatan MAR.”

Ribuan nama prajurit Belanda yang tewas di masa menaklukkan Aceh tertera di dinding marmer tersebut. Masing-masing dikelompokkan sesuai dengan tempat dan tahun kematiannya: Missisigit Raya 1873-1874, Aroen 1875, Kandang 1871, Kota Toeankoe 1889. Tempat-tempat dan tahun-tahun ini menjadi saksi pertempuran-pertempuran sengit di Aceh. Nama-nama yang tercantum di situ bertahun 1873 sampai 1935.

Tulisan “Aan Onze Kameraden Gevallen Op Het Veld Eer” (Untuk Sahabat Kita yang Gugur di Medan Perang) menyambut peziarah di muka gerbang. Kalimat yang sama juga ditulis dalam bahasa Arab dan aksara Jawa.

Namun, ketika saya menanyakan sejarah permakaman ini lebih jauh, Amri menganjurkan saya menjumpai Ridwan  Azwad. Ia dianggap paling mengerti sejarah  Kerkhof. Ia menjabat sekretaris Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh, juga asisten perwakilan De Stichting Peutjut-Fonds atau Yayasan Dana Peutjut di Indonesia.
SEJAK kecil Ridwan terbiasa dengan buku-buku sejarah. Maklum, kakek dan ayahnya juga berkerja di bidang yang sama. Ayahnya pernah menjabat direktur harian Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh. Ketika itu ayah Ridwan banyak menerjemahkan buku-buku berbahasa Belanda ke bahasa Indonesia guna memperkaya referensi sejarah Aceh. Kemahiran berbahasa Belanda juga dikuasai Ridwan.

“Ah, saya tidak semahir ayah saya,” jawabnya, merendah.

Menurut Ridwan, prajurit Belanda tak hanya orang-orang Belanda tapi juga orang Ambon, Maluku, Menado, dan Jawa. Mereka tergabung dalam korps Marsose.

Korps ini merupakan pasukan khusus dalam jajaran tentara Belanda untuk menghadapi gerilyawan Aceh. Dalam Buku Perang Kolonial Belanda di Aceh yang disunting Ibrahim Alfian disebutkan bahwa perekrutan anggota Marsose dilakukan secara ketat. Mereka yang dipilih adalah yang memiliki keberanian tempur prima. Mereka diberi latihan khusus serta dilengkapi senapan, rencong atau klewang yang sama dengan senjata orang Aceh.

“Belanda kehilangan akal bagaimana melawan orang Aceh maka dibentuklah pasukan tersebut dengan meniru cara perang orang Aceh,” tutur Ridwan.

Ketika Belanda menguasai Batavia, banyak penduduk setempat yang direkrut jadi militer Belanda.

“Ya, mereka kan bekerja untuk pemerintah saat itu, walaupun yang diperangi teman mereka sendiri,” kata Ridwan, merujuk orang Aceh dengan  kata ‘teman’.

“Yang pasti tidak ada Marsose Islam di situ,” lanjutnya, kembali ke pembicaraan tentang siapa saja yang dimakamkan di Kerkhof.

Gubernur Aceh Mr A. Ph.van Aken juga dimakamkan di Kerkhof. Ia memerintah Aceh dari tahun 1932 hingga 1936. Van Aken orang sipil dan meninggal sebagai penasehat Belanda di Jakarta. Ia berjasa terhadap perluasan Masjid Raya Baiturrahman. Setidaknya dua kubah masjid kebanggaan Aceh tersebut bertambah atas perintahnya.

Tak jauh dari kuburannya Van Aken, tepatnya di sebelah belakang area Kerkhof terdapat sejumlah kuburan orang Yahudi. Menurut buku Panduan Kuburan Militer Peutjut, kuburan ini merupakan kuburan Yahudi yang paling luas di benua Asia. Setidaknya 24 nisan masih bertahan setelah tsunami menerjang permakaman ini.

Salah satu yang dikuburkan di situ adalah Deborah Bolchover. Zaman dulu keluarga Bolchover adalah pemilik tanah dengan usaha perumahan dan berbagai usaha lain. Tanah itu berdampingan dengan Kerkhof.

“Tanah itu diberikan Belanda untuk digunakan, pendeknya seperti Hak Guna Tanah,” tutur Ridwan.

Menurut Ridwan, orang Aceh sulit menyebut nama Bolchover, sehingga lambat-laun berubah menjadi Blower, nama sebuah kampung di Banda Aceh sekarang.

Diperkirakan 2200 kuburan berada di Kerkhof dulu, namun saat ini hanya bersisa 1984 unit.  Kerusakan terjadi akibat “dimakan zaman” dan gelombang tsunami pada 24 Desember 2004. Banyak kuburan yang hancur akibat gelombang itu. Apalagi rata-rata kuburan prajurit cuma ditandai dengan tiang dan nomor.

Air tsunami mencapai dua meter di Kerkhof, dengan berbagai sampah bahkan mayat di dalamnya.

“Untung kayu-kayu besar tersangkut di gerbang. Kalau tidak, habis semua nisan di sini,” ujar Amri kepada saya, di waktu yang terpisah.

Tsunami membuat pagar yang mengelilingi permakaman roboh. Taman dan rumah penjaga kuburan ikut hancur berantakan.

Kerkhof  kemudian diperbaiki. Pagar didirikan dan permakaman itu dibersihkan dari lumpur setebal 30 sentimeter. Setelah itu rumah, taman, dan pondok tamu istimewa yang berlokasi di kiri dan kanan gerbang pun dibangun.

Menurut Amri, tak kurang dari Rp 100 juta telah dikeluarkan Yayasan Dana Peutjut untuk proyek pembuatan pagar dan taman.

Selanjutnya Amri tidak tahu-menahu. “Saya kan cuma pekerja saja di sini,” ujarnya menjawab pertanyaan berapa total dana rekonstruksi Kerkhof.

Ia pernah menyarankan R. J Nix, ketua Yayasan Dana Peutjut Belanda, agar merenovasi semua nisan Kerkhof saat pria itu berkunjung ke Aceh pada 9 November 2007 lalu.

“Tidak ada biaya, kumpul-kumpul dulu,” kata Amri, menirukan tanggapan Nix, sambil tertawa.

Yayasan Dana Peutjut adalah yayasan yang bergerak mengumpulkan dana untuk permakaman Kerkhof. Dewan pengurus yang mengumpulkan dana terdiri dari keluarga tentara Belanda yang dimakamkan di situ dan para donatur. Dana tersebut digunakan untuk perbaikan dan perawatan Kerkhof. Yayasan ini didirikan pada tanggal 29 Januari 1976 atas prakarsa Kolonel (pensiunan) J.H.J Brendgen yang prihatin dengan kondisi Kerkhof dan kuburan militer lainnya, yang tak terurus.
BENTUK nisan atau bangunan kuburan di Kerkhof  bergaya Eropa. Namun, bukan keheningan yang kita dapatkan di sini, melainkan kebisingan. Maklum, ia terletak tepat di tengah kota Banda Aceh. Terkadang bukan tidak mungkin alunan lagu-lagu pop terdengar dari sini, karena letaknya juga berdekatan dengan Taman Budaya Aceh, tempat berbagai kegiatan seni diselenggarakan.

Bentuk  nisan dan kuburan serta ukurannya bervariasi. Ada yang berbentuk ujung pena, salib batu, kubus, pilar patah, atau balok beratap. Besarnya Nisan tidak ditentukan oleh tingginya pangkat seseorang. Terkadang nisan prajurit lebih besar dari kuburan seorang perwira.

“Itu karena bukan resmi dibuat pemerintah bentuk nisannya, tapi berdasarkan sumbangan kawan-kawan (almarhum). Jadi menurut kemampuan ekonomi masing-masing,” kata Ridwan kepada saya.

Di tiap nisan tercatat penyebab meninggalnya seseorang. Overleden berarti meninggal, bisa karena sakit atau akibat lainnya. Kemudian gesneuveld yang artinya gugur di medan pertempuran. Bahkan dronken yang artinya tenggelam, tertoreh di salah satu nisan. Melalui buku Panduan Kuburan Militer Peutjut, saya mengetahui nama prajurit yang meninggal tenggelam itu. Ia adalah P.J.F de Wolf, anggota Batalyon Infantri ke-14, kompi pertama yang tenggelam di Sungai Aceh.

Setiap nisan memendam cerita, mencatat nasib mereka yang terkubur di bawahnya. Seperti kisah di balik nisan W.B J.A Scheepens, misalnya. Ia dibunuh oleh tusukan rencong Teuku Bintara Titeu. Scheepens ketika itu bertugas sebagai pemimpin sidang pengadilan.  Rupanya Titeu tak puas pada keputusan Scheepens.

“Ada satu kisah yang sangat menyedihkan dari sisi kemanusiaan,” kata Ridwan, yang saat saya menemuinya sore itu mengenakan kemeja putih dan celana putih selutut. Uban mulai mendominasi rambutnya.

Seorang letnan satu bernama H.P de Bruijn gugur sehari sebelum hari pernikahannya.

“Saat itu dia diperintahkan ke Seunagan (di Pantai Barat),” kisah Ridwan.

Namun, belum lagi tuntas bercerita, Ridwan berusaha bangkit dari bangku. Dengan meringis menahan sakit, ia berkata, “Saya akan ambil buku untuk memastikan tahun kematiannya.”

Ia tetap bersemangat, meski asam urat dan rematik membuat kakinya sulit digerakkan. Kesehatannya baru saja pulih. Hampir sebulan ia terbaring tak berdaya.

“19 Juli 1902,” ucapnya, sambil memperlihatkan buku Panduan Kuburan Militer Peutjuet.

Bruijn mati tragis. Lima belas tebasan klewang (sejenis pedang Aceh) dan satu tusukan tombak berbekas di tubuhnya.

“Katakan kepada Ibu bahwa saya sudah melakukan yang terbaik,” begitu kata-katanya yang dikutip dalam buku tersebut. Di tengah sakaratul maut, ia lupa menyinggung calon pengantinnya. Sungguh sedih.

Tak semua kuburan berisi jasad. Contohnya makam Hageman. Ia gugur di benteng kota Toeanku yang letaknya dekat dengan Pohamat (sekarang dikenal sebagai Podiamat), berjarak enam kilometer dari Banda Aceh.

Karena itu di kuburan Hageman tidak tertulis “Di sini terbaring” tapi “Untuk (Aan) (yang terbaring)”. Kuburan ini hanya semacam monumen peringatan.
DI tengah area permakaman terdapat tiga nisan bergaya Aceh kuno. Ketiganya terpancang di atas undakan semen setinggi setengah meter berbentuk persegi empat. Sebuah pohon besar meneduhi nisan-nisan tersebut. Di palang selebar 1,5 meter dan tinggi satu meter tertera tulisan: Makam Meurah Pupok.

Menurut sejarah, Meurah Pupok adalah putera Sultan Iskandar Muda, raja Aceh yang berkuasa di abad ke-17. Karena ia melakukan suatu “kesalahan”, maka Sultan menghukum sendiri putranya ini.

“Kuburan tersebut tidak dipindahkan karena titah Sultan Iskandar Muda yang tidak ingin anaknya yang berzinah dikuburkan berdekatan dengannya,” kata Fahrizal, petugas pembersih kuburan Meurah Pupok tersebut.  “Karena dia sudah melakukan perbuatan tercela maka pantaslah dia dikuburkan dengan orang kafir,” lanjutnya.

Fahrizal bekerja di Balai Pemeliharaan Peninggalan Purbakala atau disingkat BP3. Membersihkan makam hanya kerja sampingannya. Pekerjaan itu dilakoninya hampir setahun. Tiap tahun, secara bergilir, para pegawai BP3 kebagian membersihkan makam. Penggiliran tersebut bukan kewajiban, namun pilihan.

“Honornya sedikit, sudah itu suka ditahan-tahan lagi,” katanya. Ia kemudian menghembuskan napasnya, “Phuhhh….”

”Honor delapan bulan yang lalu baru saja dikasih kemarin, bulan kemaren dan bulan ini belum cair,” ujarnya, seraya tertawa getir.

Siang itu Fahrial bekerja dengan masih mengenakan pakaian kantor, seragam pegawai negeri sipil. Tangannya dengan luwes mencabuti batang-batang rumput liar yang tumbuh di sekitar makam.

Di samping kuburan Meurah Pupok ada kuburan kecil. Sepertinya kuburan tersebut milik bocah balita. Dan di sisi kirinya terdapat kuburan orang dewasa.

“Itu sepertinya kuburan istrinya,” kata Fahrizal.

“Maksud bapak, kuburan selingkuhannya?” tukas saya, bergurau.

“Jangan panggil saya bapak dong, saya kan masih muda,” protesnya. “Setahu saya dia selingkuh sama orang Belanda.”

“Dia (Meurah pupok) dulunya menguasai ilmu hitam makanya dia jahat kayak gitu,” celotehnya.

Banyak desas-desus yang beredar tentang kematian putra kesayangan Sultan Iskandar Muda tersebut. Ada yang mengatakan saat itu ia dihukum karena mengganggu istri orang lain. Ada juga yang menyebut ia berzinah dengan wanita Belanda. Bahkan ada yang mengatakan ia hanya korban fitnah belaka.

Kebenarannya tidak diketahui hingga kini.

“Hipotesa saya, dia itu difitnah!” kata Ridwan, tegas.

Iskandar Muda yang memerintah sejak tahun 1607 sampai 1636 itu  memiliki empat istri. Salah satunya Putroe Phang yang berasal dari Pahang, Malaysia. Dari empat istrinya itu ia hanya memiliki seorang anak laki-laki, yakni Meurah Pupok. Namun, anak ini bukan dari hasil perkawinannya dengan Ratu Pahang atau Putroe Phang.

“Nah saat itu ada pepatah terkenal Aceh yang menyebut-nyebut nama Putroe Phang. Bisa dibilang Putroe Phang itu gerak-geriknya lebih agresif dari pada istri sultan lainnya,” kata Ridwan.

“Tahu tidak pengganti Iskandar Muda siapa?” tanya Ridwan, tiba-tiba.

“Putrinya, Safiatuddin kan!” jawab saya.

“Eee… bukan,” Ridwan menggoyangkan jari telunjuknya.

“Iskandar Tani,” sahut saya, lagi.

“Iya, benar. Dia kan keponakan Putroe Phang juga menantu lelaki Sultan Iskandar Muda.”

Iskandar Tani adalah suami putri Sultan, Safiatuddin.

“Ingat, Sultan (Iskandar Muda) kan meninggal selang beberapa minggu sesudah menghukum anaknya. Bisa saja kematian Sultan karena shock mengetahui penyebab kematian anaknya yang direkayasa. Yang namanya bangku kekuasaan itu kan banyak yang bermain,” katanya lagi.

Kata-kata Ridwan menyiratkan dugaannya bahwa hukuman atas Meurah Pupok tak lepas dari intrik dalam istana.

“Ini hanya hipotesa saya lho,” katanya, tertawa. “Ya… kan permainan putri made in luar  lebih jago daripada produk lokal,” seketika tawanya pecah.

“Memang saat itu Iskandar Muda punya seorang anak laki-laki lainnya dengan gelar Panglima Polem Muda Seutia Peurekasa. Tapi anak tersebut tidak dilahirkan dan dibesarkan di istana. Saya kurang mengerti juga tujuannya itu apa,” ujarnya lagi.

“Menurut saya dia lebih tua dari Ratu Safiatuddin,” katanya, merujuk pada kata “polem” yang berarti “abang”.

“Lihat ini!” Ia menunjuk ke halaman 14 sebuah buku yang berjudul Susunan Pemerintahan Aceh Semasa Kesultanan karya K.H.F. Van Langen.

“Diriwayatkan bahwa putra Sultan Iskandar Muda dilahirkan oleh seorang budak wanita Hasby di Daerah XXII Mukim. Ketika Hamil, ibunya dibawa ke sana dan setelah lahir sang putra diangkat menjadi panglima sagi tersebut dengan gelar Panglima Polem Muda Seutia Peurekasa,” katanya, membacakan kalimat dalam buku itu.

Meurah Pupok memiliki nama panggilan sayang, Photeu Tjoet (Pocut). Photeu artinya ‘raja’, sedangkan Tjoet artinya ‘kecil’.

“Perlu kamu tahu, Peutjut itu nama kompleks kuburan bukan nama anak Iskandar Muda,” tegas Ridwan, membantah desas-desus yang menghubungkan nama Permakaman Peutjut atau Kerkhof dengan panggilan kesayangan untuk Meurah Pupok.

“Jika kita lihat di area tersebut terdapat banyak kuburan kuno Aceh. Dahulu area Pemakaman Peutjut merupakan bagian lingkungan istana Aceh. Tahun 1873, saat Belanda melakukan ekspedisi militer pertama, tanah tersebut “dibelah”,” katanya.

Dulu orang Aceh menguburkan keluarganya di sekitar rumah, begitu juga dengan keluarga Sultan Aceh.

“Terasingnya kuburan Merah Pupok jangan dikait-kaitkan dengan perbuatannya. Apalagi mengatakan dia dikuburkan di Peutjut bersama bangsa Belanda karena perbuatannya yang kaphe (kafir),” ujar Ridwan, lagi-lagi ia membantah gosip seputar perzinahan sang putra mahkota dengan perempuan Belanda.

Kaphe, sebutan untuk penjajah non Islam saat itu, atau sering digunakan untuk mengumpamakan perbuatan yang melanggar ajaran Islam.

“Sultan Iskandar Muda kan berkuasa tahun 1607 sampai 1636, meninggal di tahun yang sama dengan anaknya. Jadi Meurah Pupok itu meninggalnya tahun 1636,  belum masuk (tentara) Belanda (ke Aceh) kan,” katanya  “Lihat saja jaraknya sekitar dua abad.  Kan ndak ada urusan (tidak ada hubungannya),” lanjutnya, mengoreksi kembali gosip itu.

Pada 1874 kerajaan Aceh berhasil dikuasai Belanda. Bersamaan dengan itu pula Kerkhof mulai digunakan sebagai area kuburan Belanda.

Perwira yang pertama dikuburkan di sini adalah J.J.P Weijerman yang tewas pada tanggal 20 Oktober 1883 di dekat Masjid Siem Krueng Kale, kecamatan Darussalam.

Atap kuburan di Kerkhof awalnya banyak memakai seng atau logam, tetapi karena tak adanya pengawasan dan pemeliharaan banyak kuburan yang dirusak.

“Apalagi ketika  masa invasi jepang, ya dicurilah, dirusaki,”  tutur  Ridwan.

Di masa Jepang, menurut buku Panduan Kuburan Militer Peutjut, segala sesuatu yang terbuat dari logam atau yang cocok untuk meningkatkan kesiapan perang melawan Jepang dipindahkan dan diangkut ke tempat lain.

Sesungguhnya area permakaman ini tidak hanya diperuntukkan untuk militer Belanda. Warga setempat yang beragama Kristen juga ada yang dikuburkan di situ. Tindakan ini dimulai di masa Republik Indonesia, apalagi lahan kuburan untuk non muslim jarang terdapat di Aceh. Di sini kita juga akan menemukan makam orang-orang Tionghoa.

Secara umum ada dua kelompok kuburan di situ. Pertama, yang ada sebelum Belanda meninggalkan Aceh dan kedua semasa Republik Indonesia.

“Namun di tahun 1970 area kuburan tersebut dilarang kembali  dipakai oleh umum untuk menjaga keeksklusifannya. Tapi jumlah keseluruhan NG sedikit,” kata Ridwan.

NG adalah singkatan dari New Grave atau Kuburan Baru. Ini kode kuburan yang dibuat saat pendataan kembali nisan-nisan di Kerkhof pascatsunami. Kuburan yang dibuat setelah tahun 1942 dikategorikan NG.

Pemeliharaan kembali  Kerkhof telah dimulai padai tahun 1970. Enam tahun setelah itu terjadi pemugaran dan berdirinya Yayasan Dana Peutjut.  Penggagasnya, J.H.J Brendgen, pernah bekerja di Aceh Barat dan mahir bahasa Aceh.

“Dulu perhatian pemerintah sangat kecil terhadap Peutjut Kerkhof,” kata Ridwan.

Bisa dikatakan pemeliharaan permakaman itu dimulai di masa pemerintahan gubernur Aceh  A. Muzakir Walad, tepatnya tahun 1978.

“Tapi apapun itu, bisa dikatakan semua biaya perawatannya dari orang Belanda,” lanjut Ridwan.

“Pemakaman Peutjut ini harus dijaga  agar menjadi bukti bahwa ada perjuangan berdarah dalam mempertahankan wilayah Aceh,” katanya, lagi.

Tiba-tiba seorang perempuan paruh baya, yang tak lain dari istri Ridwan mengingatkan waktu sholat Ashar. Ridwan menyahut, “Sebentar lagi,” karena begitu asyiknya ia menjelaskan segala sesuatu kepada saya. Ia begitu bersemangat dan berucap, “Bagaimanapun kuburan itu harus dijaga, itu salah satu bukti. Ingat bukan satu-satunya bukti tapi salah satu dari sekian banyak bukti.”

Ridwan bangkit dari tempat duduknya dan berjalan dengan menahan nyeri di lututnya menuju kamarnya. Selang beberapa menit ia sudah  kembali lagi

“Lihat ini,” ujarnya, memperlihatkan halaman lima sebuah buku tua berbahasa Belanda kepada saya.

“Daarom zal de Atjeh-Orrrlog steeds een leerschool blyven voor ons leger.” Ia membaca kalimat di halaman tersebut dengan fasih. “Ini artinya, karena peperangan, Aceh senantiasa menjadi suatu tempat belajar untuk tentara kita.”

Petikan kata tersebut berasal dari buku De Krijgsgeschiedenis van Nederlandsch Indië van 1811 tot 1894 (Perang Di Hindia Belanda dari Tahun 1811 hingga 1894). Ini jilid ketiga  dan terbit tahun 1987.  Buku ini ditulis pensiunan Letnan Kolonel Infantri G.B Hooyer.

“Lihat saja ini sediri, jangan bilang saya mengada-ngada,” katanya sambil menyerahkan buku itu kepada saya.

“Jadi, lihat saja bagaimana mereka (orang Belanda) menghargai perang dengan bangsa Aceh. Perkataan tersebut keluar dari seorang kolonel bukan orang sipil,” ucapnya, serius

“Ada bermacam model perang di Aceh. Buah kesulitan perang tersebut makanya terbentuk Marsose,” kata Ridwan.

“Orang Belanda saja mengakui kehebatan kita,” katanya bangga.

“Kerkhof itu harus dirawat dan dijaga sebagai bukti perlawanan hebat bangsa Aceh,” tekannya lagi. “Sekarang masalahnya bukan mempertahankan kuburan kaphe tapi mempertahankan bukti sejarah hebat bangsa Aceh melawan penjajahan Belanda. Tak ada penjajah yang mengakui kehebatan lawannya seperti Belanda mengakui kita. Sejarah membuktikan itu,”  tekannya.

Kekhawatiran Ridwan tak berlebihan. Sejak pemerintahan Aceh dipimpin gubernur Irwandi Yusuf  dan perdamaian antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka ditandatangani pada Agustus 2005 lalu, keran investasi terbuka lebar di Aceh. Bukan tak mungkin Kerkhof dibongkar atau digusur untuk perluasan kota atau bangunan usaha.

“Dalam sejarah ada istilah No Document,  No History,” cetus Ridwan. Jika tidak ada dokumen atau bukti sejarah, maka kita tidak akan pernah tahu apa yang telah terjadi di masa lampau.
DI penghujung jalan utama yang membelah area Kerkhof terdapat sebuah kuburan besar. Menurut pengamatan saya, kuburan itulah yang terbesar dan termegah di antara seluruh makam di Kerkhof. Sebuah lukisan lelaki berjenggot serta berambut  hitam terpampang di puncak nisan.

Di depan nisannya yang menjulang tinggi terdapat peti batu dengan ukiran menyerupai umbaian kain. Ada sekitar empat anak tangga untuk menuju peti tersebut.

“Aan Johannes Ludovicus Jacobus Hubertus Pel.”  Itulah tulisan yang tertera di makamnya. Ia adalah jenderal Belanda keempat yang dikuburkan di sini. Ia punya julukan yang terkenal, yaitu Mayor Jenderal Pel.

Pel mati mendadak karena stroke di perkemahan Krueng Tjoet, tepatnya di Lamnyong. Namun, desas-desus yang beredar menyebutkan ia mati tertembak.

Jika kita bepergian ke Darussalam, tepatnya ke sebelah kiri bantaran sungai Lamnyong, kita dapat melihat monumen kematian Pel.

“Itu kuburan Jenderal Kohler, Dek,” sapa seorang pria kepada saya. Ia menunjuk kuburan Mayor Jenderal Pel.

“Bukan, ini kuburan Pel, Kohler kan di depan,” sahut saya.

“Ini kuburan Kohler, Dek.” Ia bersikeras pada pendapatnya.

“Katanya Kohler sesudah tertembak dikuburkan di Batavia yah, kemudian dikuburkan kembali di sini kan?” tukas saya.

“Enggak! Ini kuburan Kohler, dari dulu memang di sini dia dimakamkan,” bantah lelaki ini.

“Saya tinggal dekat sini, Dek, Sudah lama sejak lahir. Turun-temurun,” ucapnya. Umurnya sekitar 26 tahun.

Ia sangka dengan menekankan kata “sejak lahir” dan “turun-temurun”, maka ia bisa membuat saya percaya pada penjelasannya.

“Dek, tadi ada ke kuburan itu tidak?” Ia menunjuk ke kuburan Meurah Pupok. “Hati-hati di situ seram,” lanjutnya, serius.

Saya hanya tersenyum mengingat sudah hampir satu jam saya habiskan untuk duduk sendirian di kuburan anak Sultan Iskandar Muda itu. Sama sekali tak ada aura seram seperti yang dikatakannya. Saya teringat kembali kata-kata Ridwan bahwa sejarah harus dirawat dan cerita harus ditulis. Lelaki di hadapan saya ini, yang lahir dan besar di dekat kuburan ini, ternyata begitu kacau pengetahuannya tentang Kerkhof  dan menyesatkan.***
 

Mus has been trying to get by for 10 months by the bank of the Alue Naga Aceh River. This is
indeed a temporary residential area. So has M. Husen. Both feel that they cannot stand to live far from
the ocean. The ocean is not only their “rice field”, it is also their empire.
Based on such they persisted to stay in the village that, keeping in mind the Government
phrase for Red Zone, is named the Restricted Area. Restricted as in not allowing construction of
residential buildings.
Not only in Alue Naga, similar cases have also taken place within the area severely damaged
by the tsunami tidal waves. For example, in Krueng Raya, Lamteungoh Peukan Bada, Meulaboh,
Calang, Aceh Jaya, etc.
Therefore, it is not surprising that most of the victims ignore the restriction. This is because, no
matter what the situation is, their original villages are quite strategically located to survive in
accordance with their previous professions.
Mus realizes this issue. That is why the banks of Lamnyong River are considered highly
strategic for fishing, particularly when the location is at the hills of their villages.
Uninformed about the Blue Print
Aren’t they afraid that the Government would blame them for living nearby the ocean,
especially when there already are warnings? Most of the residents admitted that it is their choice. They
are not concerned with what is called the Blue Print. Some of them acknowledged that they have heard
about it.
“When our villages are completed, we certainly shall be forced to move. This is Government
property, while this is still an emergency, thus we shall remain here,” stated Husen. “The Government
may prohibit us from living nearby the ocean, but this is what we all want.”
However, until now, they consider it as rumors spread by certain people. “We once heard that
it is prohibited to build houses 2 kilometers from the shore. However, there many people in Ulee Lheue
and Peukan Bada, Aceh Besar, violating such regulation,” Mus added again.
The residents of Ulee Lheue and Peukan Bada and the other offshore villages are indeed
correct. The rumors about blue print sounded sonorant in the beginning. However, at the very first
moment the Head of BRR Aceh Nias, Kuntoro Mangkusubroto stepped on the land of the tsunami, he
stated that the “Blue print is not final.”
Photo-caption: A bird-eye view of Calang town seen from an airplane. Calang town shall move
approximately 8 kilometers inwards towards the land for town expansion and simultaneously avoiding
damages to the town should there be another tsunami.

I Hate Monday!!!

“I hate Monday!!,” teriak seorang penyiar Flamboyan FM dalam siaran pagi. Ada banyak alasan yang dilontarkan untuk mendukung pernyataanya. Namun, satunya alasan yang diterima oleh otakku yang semakin usang ini, Senin adalah hari dimana aku memulai aktifitasku setelah libur panjang. Dan Senin aku harus bekerja tiga kali lebih berat karena, semua semua berita hari Sabtu dan Minggu harus kubuka, kubaca dan dibuat summary-nya. Huh I hate Monday. Namun, Senin ini tampak istemewa bagiku, kenapa???. Akhirnya Blogku bisa di active-kan. hip hip hip horray!!!!!.  Segudang ide yang terkurung dalam otakku  akhirnya bisa ku bebaskan. Tidak sabar rasanya menulis keluh kesah, menuangkan ide and coleteh ku atau sekedar berbagi kesukaanku dalam blog yang sederhana ini. Tapi…”tugas Senin” sudah menumpuk. Oh arrrgg….. I hate Monday!  

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!